PANTAI MUSTIKA DAN PULAU MUSTAKA

Pantai Mustika, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Wisata Banyuwangi - Pantai Mustika terletak di antara Pantai Pulau Merah dan Pantai Pancer. Posisinya masih satus garis dengan pantai Pulau Merah, sekitar tiga hingga empat kilometer disebelah baratnya. Untuk menjangkau Pantai Mustikapengunjung bisa melewati bibir pantai atau memutar menggunakan kendaraan melalui jalan desa. Sedangkan dari Pantai Pancer, lokasi Pantai Mustika tepat disebelah timur TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pancer. Ada papan nama petunjuk arahnya yang bisa dilihat oleh pengunjung.

Pantai Mustika tergolong pantai yang masih perawan. Warga setempat mengenal lokasi ini sebagai Mustaka (kepala) kawasan Teluk Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Nama Pantai Mustika konon berkaitan dengan kedatangan Ratu Kidul ke tempat tersebut. Sewaktu pulang mustikanya tertinggal. Lalu ada seseorang yang menemukan mustika tersebut. Karena orang tersebut mengetahui bahwa mustika itu milik Ratu Kidul, maka ia membuangnya ke laut dengan harapan dapat kembali kepada pemiliknya. Dari situ kemudian pantai ini dinamakan Pantai Mustika. Soal kebenaran cerita tersebut tentu berpulang pada kepercayaan masing-masing orang.

Pantai Mustaka Banyuwangi.
Pantai Mustaka, berbentuk setengah lingkaran.
Pantai Mustika yang cukup nyaman untuk bersantai bersama keluarga tersebut memiliki ombak yang cukup aman untuk anak-anak yang ingin bermain di tepi pantai maupun berenang. Selain hamparan pasir putih yang bersih, kontur pantai yang landai dan membentuk seperti setengah lingkaran, juga sangat baik di jadikan lokasi olahraga. Kawasan sekitarnya cukup rindang dengan ratusan pohon kelapa, seakan menjadi kanopi alami di Pantai Mustika. Kesejukan pantai bisa dirasakan begitu memasuki kawasan tersebut. Beberapa meja dan kursi sudah tertata rapi di sana. Meja tersebut berderet di sepanjang garis pantai dan cukup nyaman dijadikan tempat bersantai sambil menikmati view sunrise.

Dari pantainya pengunjung melihat secara langsung panorama alam Pulau Mustaka di seberang. Pulau seluas 3 hektar yang berjarak sekitar empat mil laut dari bibir pantai ini menyuguhkan panorama dinding tebing yang menawan di hampir semua bagian terluarnya. Tebing tersebut seolah benteng alam bagi populasi monyet yang hidup di sana.

Pantai Mustika atau Mustaka, Banyuwangi
Pulau Mustaka dilihat dari Pantai Mustika.
Perairan sekitar Pulau Mustaka juga menyimpan keindahan bawah laut yang relatif perawan. Terumbu karang, keragaman ikan hias menjadi daya tarik yang tak ternilai. Keindahannya dapat dinikmati dengan snorkeling. Selain itu, perairan Mustaka menjadi spot para mancing mania. Saking jernihnya air di sana, pengunjung bisa melihat isi laut hingga ke dalaman empat meter. Terumbu karang dan biota laut bisa dilihat secara jelas dengan mata telanjang.

Menurut warga setempat, Pulau Mustaka terkenal dengan terumbu karang yang indah dan juga menjadi habitat dan berkumpulnya berbagai jenis ular laut. Meski terdengar berbahaya, tapi hingga saat ini be lum pernah ada kejadian ular menggigit pengunjung. Keberadaan ular laut di sekitar Pulau Mustaka itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Meski banyak ular, sejauh ini tidak ada kecelakaan yang melibatkan manusia. Tentu saja, asal kan pengunjung tidak mengganggu ular laut tersebut.

Pantai Mustika, Pesanggaran, Banyuwangi.

Konon di Pulau Mustaka ada peninggalan masa penjajahan Jepang berupa benteng pengintai lengkap dengan meriam besar di puncaknya. Situs ini sekaligus menjadi wisata sejarah meski banyak cerita mistis seputar keberadaannya. Banyak warga mengatakan, di Pulau Mustaka kerap muncul penampakan makhluk gaib. Karena itu ada rencana untuk mengembangkan Pulau Mustaka sebagai tujuan wisata mistis. Untuk menuju Pulau Mustika, pengunjung bisa memanfaatkan perahu nelayan yang bersandar di Pantai Pancer.

Tak jauh dari Pulau Mustaka terdapat satu pulau yang disebut Pulau Mbedil. Pulau ini terbagi dua, Pulau Mbedil Satu dan Pulau Mbedil dua yang terpisahkan selat pendek. Nama 'Mbedil' diambilkan dari bahasa Jawa. Mbedil asal kata dari Bedil. Dalam bahasa Indonesia berarti senjata api. Jadi Mbedil memiliki arti menembak.Selain itu karena bentuknya menyerupai bedil, sehingga dinamakan juga Pulau Bedil.

Nah, kedua pulau Mbedil itu konon memiliki keunikan yang berkaitan dengan namanya tersebut. Sesekali dari arah Pulau di sebelah barat Pulau Merah itu terdengar suara mirip dentuman meriam. Suara dentuman itu berasal dari hempasan ombak yang masuk ke gua yang ada di bawah bibir tebing pulau Mbedil. Suaranya terdengar dari jarak sekitar 100 meter. Semakin kencang hempasan ombak, maka semakin nyaring suara dentuman pula.

Yang lebih unik lagi, suara tembakan itu akan diikuti kemunculan pelangi pendek yang melayang di antara Pulau Mbedil satu dan dua. Fenomena ini hanya berlangsung beberapa menit saja dan di kala matahari bersinar terik.

Pulau Mbedil, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Pulau Mbedil Satu dan Pulau Mbedil Dua.
Di sekitar Pulau Mbedil tersebut terdapat sebuah karang yang dipercaya sebagai sebuah media untuk Ratu Pantai Selatan atau Nyai Roro Kidul muncul ke dunia ini dari dunianya.

Karang tersebut dari bibir Pantai Selatan terlihat menyerupai sebuah kursi yang berdiri. Karena itu karang itu disebut sebagai Karang Kursi. Karang kursi ini dimitoskan sebagai tempat Nyi Roro Kidul muncul. Kalau kita berdiri diatas Karang Kursi itu terdapat sebuah jendela angin dari bawah laut yang mengembuskan angin kencang dari laut dan disusul air laut yang menyembur ke atas. Uniknya, air yang menyembur tersebut tidak asin melainkan tawar. Belakangan pantai ini disepakati dengan nama Pantai Parang Kursi oleh Bupati Banyuwangi.

Pantai Parang kursi, Pesanggaran, Banyuwangi.
Parang Kursi
Namun bila pengunjung masih belum cukup nyali ke Pulau Mbedil, masih ada lokasi yang tidak kalah menarik. Di sebelah barat Pantai Mustika terdapat lokasi yang di namakan Wedhi Ireng (pasir hitam). Di lokasi itu ada pantai dengan dua macam pasir; berwarna putih bersih dan berwarna hitam. Dua warna itu tidak menyatu, sehingga sangat sedap dipandang mata. Waktu yang dibutuhkan menuju Wedhi Ireng tidaklah lama. Jika tenaga masih prima, cukup 30 menit dengan berjalan kaki dari Pantai Mustika.

Daya tarik Pantai Mustika tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, keguyuban warga setempat juga menjadi objek menarik. Kesadaran masyarakat terhadap ke bersihan layak diacungi jempol. Sekali dalam sepekan, tua-muda membersihkan kawasan pantai.

Pengunjung Pantai Mustika berasal dari warga masyarakat baik dari Wilayah Kecamatan Pesanggaran maupun dari luar Wilayah Kecamatan Pesanggaran. Potensi alam yang cukup indah tersebut sudah selayaknya untuk dikelola secara profesional dengan harapan dapat berkembang secara maksimal, sebagai salah satu destinasi wisata alternatif selain Pantai Pulau Merah, Pantai Teluk Hijau maupun Pantai Sukamade.

MENGENAL TRADISI SUKU OSING DI DESA KEMIREN-BANYUWANGI

Wisata Banyuwangi - Masyarakat suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, memiliki berbagai tradisi dan ritual unik yang masih terpelihara sampai sekarang. Selain Barong Ider Bumi yang sudah populer, ada banyak tradisi masyarakat di Desa Kemiren lainnya seperti tradisi Selamatan Sedekah Lebaran, Tradisi Tumpeng Sewu, Tradisi Mepe Kasur, Tradisi Mengunyah Sirih, Ritual Mudun Lemah dan Tradisi Arak-Arakan Pengantin.

SELAMATAN SEDEKAH LEBARAN

Bagi masyarakat Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, saat berbuka puasa di hari terakhir Ramadan atau malam takbiran menjelang hari raya memiliki makna tersendiri.

Warga Kemiren berkeyakinan di malam takbiran juga merupakan momen penting dari serangkaian perayaan Idul Fitri tersebut. Ditiap tahunnya mereka rutin menggelar tradisi "Selametan Sedekah Lebaran" yang dilaksanakan dimasing-masing rumah.

Sedekahlebaran adalah selamatan kemenangan bagi masyarakat Desa Kemiren setelah melaksanakan puasa ramadhan sebulan penuh. Tujuannya agar seluruh keluarga diberi keselamatan saat unjung-unjung (anjangsana) atau silaturahmi di hari Lebaran. Selain itu, kegiatan ini digelar untuk untuk mendoakan leluhur dari warga Kemiren yang sudah meninggal.

Dalam Selametan Lebaran ini, masyarakat Kemiren berkelompok melakukan doa bersama dengan kerabat dan tetangga berjumlah sekitar 10 sampai 20 orang. Mereka secara bersama-sama mengunjungi rumah dari anggota tersebut secara bergantian. Mereka berdoa untuk para leluhur mereka dan untuk keselamatan tuan rumah dalam menjalankan perayaan Idul Fitri.

Uniknya, disaat anjang sana ditiap rumah anggota. Mereka diharuskan makan hidangan yang disediakan. Jadi jika jumlah anggotanya 20 orang, mereka akan bersantap bersama sebanyak 20 kali juga. Tapi sebelumnya dilakukan doa agar tuan rumah selamat, banyak rejeki dan mendapat kesehatan.

Menu Selametan Lebaran bermacam-macam. Mulai dari makanan khas desa Kemiren hingga masakan khas ketupat lebaran pun disajikan untuk ritual tersebut. Semuanya dilakukan untuk melestarikan budaya adat dan tradisi yang mereka anut.

Menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah tentunya tidak mudah. Apalagi dalam satu kelompok yang berjumlah sekitar 10 sampai 20 orang. Perut tidak akan muat jika setiap kali harus makan secara penuh, maka untuk mensiasatinya, banyak tamu atau undangan selamatan yang hanya memakan krupuk atau buah-buahan saja.

TRADISI TUMPENG SEWU
Tradisi Tumpeng Sewu suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi.
Tumpeng Sewu merupakan ritual adat selamatan massal yang telah berlangsung turun temurun pada suku Osing di Desa Kemiren, sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa yang mereka terima selama satu tahun.

Tumpeng Sewu artinya tumpeng yang jumlahnya seribu. Disebut demikian karena biasanya setiap kepala keluarga mengeluarkan tumpeng minimal satu. Sedangkan di desa yang berjarak sekitar 5 km dari kota Banyuwangi itu dihuni 1.025 kepala keluarga.

Tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala (menghindarkan dari segala bencana dan sumber penyakit). “Kalau ritual itu ditinggalkan, maka akan berdampak buruk kepada masyarakat Desa Kemiren, sehingga warga Osing menjaga tradisi itu hingga turun temurun,” kata sesepuh adat Desa Kemiren, Juhadi Timbul.

"Tradisi tumpeng sewu juga dipercaya dapat menjauhkan warga desa dari malapetaka dan ritual itu sekaligus untuk menghormati datangnya bulan haji atau Dzulhijjah," tuturnya.

Menurut cerita rakyat setempat, selamatan tumpeng sewu tersebut berawal dari cerita seseorang yang menjerit meminta tolong karena kesakitan dan warga yang mendengar jeritan tersebut spontan mencari orang yang minta tolong.

Warga yang menjerit tersebut adalah Mbah Ramisin yang sedang kesurupan, kemudian Mbah Ramisin mengaku bahwa dirinya adalah Buyut Cili (tetua adat Desa Kemiren) yang meminta warga desa setempat melakukan selamatan satu tahun sekali.

Dalam acara selamatan itu, warga juga berdoa agar warga Desa Kemiren dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Sebelum acara selamatan digelar, warga Desa Kemiren biasanya melakukan ritual menjemur kasur secara massal pada siang hari karena dipercaya sumber penyakit berada di tempat tidur. Warga Osing beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, sehingga mereka menjemur kasur di halaman rumah masing-masing, agar terhindar dari segala jenis penyakit.

Ritual tumpeng sewu ini ditandai dengan kegiatan di mana setiap rumah membuat nasi dalam bentuk kerucut sebanyak seribu dengan lauk pauk khas Osing, yakni pecel pithik (ayam panggang dicampur parutan kelapa yang sudah diberi bumbu). Makanan itu lantas ditaruh di depan rumah.

Tradisi Tumpeng Sewu suku Osing Banyuwangi

Bentuk mengerucut ini memiliki makna khusus, yakni petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, di samping kewajiban untuk menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sementara pecel pithik mengandung pesan moral yang bagus, yakni "ngucel-ucel barang sithik". Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.

Tradisi Tumpeng Sewu suku Osing Banyuwangi.

Dengan diterangi oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat), Tumpeng Sewu ini menjadi sebuah ritual yang khas dan tetap sakral. Sebelum selamatan dimulai, masyarakat melakukan "ngarak barong" sebagai simbol penjaga Desa Kemiren. Selain itu mereka juga membakar daun kelapa kering di sepanjang jalan untuk menghilangkan marabahaya. Sebelum makan bersama, warga mengawalinya sholat maghrib berjamaan dan doa bersama

Usai makan bersama, warga membaca Lontar Yusuf (Surat Yusuf) hingga tengah malam di rumah salah seorang tokoh masyarakat setempat. Lontar Yusuf yang merupakan rangkaian dari ritual ini menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf.

TRADISI MEPE KASUR


Ada tradisi unik yang selalu dilakukan masyarakat adat Using di Banyuwangi, Jawa Timur, setiap menjelang Hari Raya Idul Adha. Yakni tradisi mepe kasur, atau menjemur kasur. Tradisi mepe kasur dilakukan setiap awal bulan Dzulhijah dalam kalender Jawa dan Islam. Tetapi harus dilakukan di malam Senin atau Jumat.

Tradisi Mepe Kasur ini merupakan bagian tak terpisah dari tradisi selamatan desa yang disebut Tumpeng Sewu. Jika Tumpeng Sewu dilakukan pada malam hari, maka tradisi Mepe Kasur dilakukan pada pagi sampai siang harinya. 

Pada siang hari sebelum dilakukan tradisi Tumpeng Sewu, warga desa Kemiren melakukan ritual menjemur kasur (mepe kasur) secara massal.Ratusan kasur itu dijemur berderet-deret sepanjang jalan. Mepe kasur dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga sinar matahari meredup.

Cara menjemur kasur memang tidak berbeda dengan di tempat lain. Kasur di tempatkan di depan rumah atau pinggir jalan, di bawah teriknya matahari. Pada saat tertentu, ibu-ibu akan memukul-mukul kasur dengan rotan untuk menghilangkan debu yang melekat. Yang unik, semua kasur berwarna sama, yakni  hitam dan bertepi merah.

Tradisi mepe kasur suku Osing Banyuwangi.

Memang semua kasur warga Kemiren warnanya khas, yaitu abang cemeng. Abang artinya merah dan cemeng berarti hitam. Abang cemeng merupakan bahasa Using. Sisi atas dan bawah kasur kapuk itu berwarna hitam, sedangkan kelilingnya berwarna merah.

Menurut Timbul, sesepuh desa Kemiren, kasur warga Using memang selalu dibuat demikian, sebagai lambang kerukunan dan semangat bekerja dalam rumah tangga.

Hingga kini, tradisi berkasur hitam merah ini terus menerus diturunkan. Setiap pengantin baru akan menerima kasur baru dengan warna serupa dari orangtua mereka. Mungkin hanya di desa inilah springbed dan laundry kasur tak menemukan pasarnya.

Namun menjadi unik karena kasur itu dijemur secara bersamaan. Karenanya di sepanjang kiri dan kanan jalan desa Kemiren terlihat kasur-kasur dijemur.Kasur yang dijemur juga kasur khusus. Sebab warnanya khas Kemiren yakni abang cemeng. Abang dalam Bahasa Indonesia berarti merah dan cemeng berarti hitam.

Dalam tradisi masyarakat suku osing desa Kemiren, pasangan suami istri yang baru menikah pasti mempunyai kasur abang cemeng. Warna Cemeng atau hitam bertujuan menolak bala atau sial, sedagkan warna merah melambangkan kelanggengan dalam rumah tangga. Jadi setiap pasangan baru berharap terjauh dari sial dan rumah tanggannya langgeng dengan kasur abang cemeng.

Setelah mepe kasur, warga setempat nyekar ke makam buyut Cili, leluhur desa setempat. Setelah itu, acara arak-arakan barong dan arak-arakan obor blarak (daun kelapa kering).

TRADISI MENGUNYAH SIRIH (NGINANG)


'Nginang' merupakan kegiatan mengunyah sirih, tembakau, jambe, gambir dan kapur. Tradisinginang atau mengunyah sirih ini sudah sulit ditemukan pada masyarakat perkotaan di Indonesia. Namun di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tradisi nginang ini masih berlangsung dalam masyarakat, meskipun terbatas di kelompok usia lanjut. Dan uniknya, tradisi nginang ini dilombakan setiap tahunnya.

Tujuan lomba ini memang dilatarbelakangi untuk melestarikan tradisi nginang di kalangan masyarakat desa Kemiren. Hal ini karena kegiatan nginang sudah nyaris hilang di kalangan anak muda. Tak heran jika pesertanya adalah nenek-nenek yang berusia 50 tahun ke atas yang merupakan perwakilan dari 28 RT di Desa Kemiren.

Para nenek duduk di kursi yang disediakan panitia sebelum tampil di panggung. Mereka memakai baju terbaiknya yakni jarik dan kebaya.

Setiap peserta membawa tempat kinang mereka. Tempat kinang ada yang terbuat dari kuningan juga kayu. Ukiran mempercantik tempat kinang, baik dari kuningan maupun kayu.
Dalam lomba nginang, nenek-nenek itu harus beraksi di depan para juri. Mereka meracik dan mengunyah sirih sambil melakukan wangsalanatau berbalas pantun, menari atau nembang.

TRADISI MUDUN LEMAH 

Ritual Mudun Lemah suku Osing, Banyuwangi.
Ritual mudun lemah adalah cara warga Suku Using yang ada di Banyuwangi dalam mengenalkan bumi dan tanah kepada buah hatinya yang baru berusia 7 bulan.

Ritual mudun lemah atau turun tanah ini wajib dilakukan bagi anak yang sudah masuk usia 7 bulan. Ritual mudun lemah ini diawali dengan tarian barong serta mengarak sang bayi bersama keluarga mengelilingi kampung. Usai diarak, pakaian bayi pun dilepas hingga tak ada sehelai benang pun sebagai gambaran bahwa setiap manusia lahir ke dunia tidak membawa apa-apa.

Agar bayi tidak menangis saat mengikuti ritual tersebut, bayi pun diajak bermain kuda-kudaan mengelilingi berbagai jajanan dan persyaratan ritual.

Selanjutnya, sang dalang yang memimpin ritual itu pun langsung membimbing bayi agar kedua kaki bayi dapat menyentuh tanah pertama kalinya. Pada saat itu, sang dalang juga memukulkan tangannya ke tanah sebanyak 3 kali sebagai tanda salam bahwa ada manusia baru yang akan memanfaatkan bumi untuk menjalani hidup hingga meninggal nanti.

KOLOAN, TRADISI SUNATAN SUKU OSING
Ritual Koloan, tradisi sunatan suku Osing, Banyuwangi.


Suku Osing di Kecamatan Glagah, Banyuwangi mempunyai tradisi sunat atau khitan bagi anak-anaknya. Mereka yang akan disunat wajib menjalani ritual khusus yang disebut Koloan. Koloan artinya jebakan. Ritual Koloan dilakukan agar si anak siap karena pada umumnya seorang anak takut kalau disunat.

Dalam tradisi Koloan, sang anak yang akan dikhitan harus ditetesi darah ayam. Dengan dipimpin oleh seorang pemimpin ritual, si anak yang bertelanjang dada duduk di atas kursi kayu kecil, di depannya terdapat beberapa sesaji. Si pemimpin ritual lalu akan berdoa dalam Bahasa Osing sambil mengusapkan bedak di wajah si anak. Kemudian seekor ayam jago warna merah disembelih. Ayam yang dipilih harus berbulu merah dan belum kawin. Darah segar yang keluar dari leher ayam diteteskan di atas kepala si anak dalam beberapa menit hingga ayamnya mati.

Setelah itu si anak dibawa ke sungai dan dimandikan. Saat melangkah, si anak juga harus melewati benang yang diletakkan melintang di tanah. Bagi anak yang akan disunat, setelah mengikuti ritual Koloan ia tidak lagi merasa takut saat akan disunat.

Menurut Sanusi Marhaedi, seorang pemimpin ritual Koloan, menyembelih ayam merupakan simbol pengorbanan seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim yang mengorbankan anaknya Nabi Ismail. Harapannya setelah disunat nantinya si bocah bisa berbakti pada orangtuanya dan  meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail. Selain itu juga diharapkan agar setelah melakukan pengorbanan semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan.
Ritual Koloan, tradisi sunatan anak Suku Osing, Banyuwangi.

Ritual Koloan akan diakhiri dengan makan bersama di halaman orangtua si anak dengan menu khas suku Osing, yaitu pecel pithik yang dikuti oleh warga sekitar. 


GEREDOAN, TRADISI MENCARI JODOH SUKU OSING
Masyarakat Suku Osing mempunyai tradisi unik dalam mencari jodoh yang disebut Geredoan. Gredoan, menurut Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan merupakan tradisi masyarakat Using untuk mencari jodoh terutama di wilayah Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi .  "Gredo ini artinya menggoda. Ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda atau janda. Diadakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya  pada malam hari sebelum paginya selamatan di masjid," jelasnya.

Geredhoan pada awal mulanya digelar di kantung-kantung pemukiman Suku Osing di Banyuwangi, seperti Kecamatan Giri (Desa Boyolangu dan Penataban), Kecamatan Glagah (Desa Banjarsari, Glagah, Bakungan, Keniten, dan Mojopanggang), dan Singonjuruh. Tapi belakangan hanya dilakukan setahun sekali di Desa Kabat, Dadapan, dan Rogojampi. Penyelenggaraannya bertepatan pada acara Maulid Nabi SAW.

Di beberapa tempat dilakukan secara teratur, bahkan ada panitia penyelenggaranya. Tiap keluarga diminta menyiapkan tepung, beras, gula, dan bahan lain untuk membuat kue dan tumpeng, Bahan tersebut ditaruh di rumah gedek (berdinding bambu) dekat masjid. Sambil memasak, para pemudi di dalam bilik itu mengikuti salawat dan ceramah agama.

Sementara itu para lanceng (jejaka) membuat peralatan dan hiasan upacara di luar rumah. Sembari bekerja mereka mengintip kesibukan para gadis lewat lubang gedek. Jika menaksir, lanjut dengan acara ngobrol. Tapi mereka tidak bicara langsung melainkan dibatasi dengan sekat dinding dari bambu itu. Makin malam dilanjutkan dengan komunikasi lebih serius, yaitu meminta kesediaan perempuan menerima cintanya.

Apa tandanya? Si jejaka memasukkan batang lidi janur lewat lubang gedek. Jika si pemudi mematahkan ujung lidi, maka pertanda cintanya ditolak. Sebaliknya bila dibentuk bulatan kecil mirip daun waru berarti cintanya diterima. Kalau sudah begini, dilanjutkan dengan berbalas pantun.
Esoknya, tumpeng dan kue basah seperti nagasari, onde-onde, pisang goreng, lemper, bikang, dan sate telur puyuh ditaruh dalam wadah persegi dari bambu. Di bagian tengahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan telur bertusuk sejumlah 99. Kemudian, dibawa ke masjid untuk dinikmati bersama-sama, sambil bersalawat.

Tradisi Gredoan di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi sampat saat ini masih terus terjaga dan berlangsung sangat meriah. Ratusan warga baik dari Desa Macan Putih ataupun dari desa-desa lain beramai-ramai mengunjungi Desa Macan Putih. Belum lagi beberapa atraksi yang ditampilkan serta pawai keliling desa yang menampilkan beberapa hiburan seperti aktraksi tarian tongkat api, musik daerah hingga karnaval boneka yang dibuat oleh masyarakat Desa Macan Putih.


Sedangkan di Desa Gitik, Kecamatan Kabat acara geredhoan diadakan secara ala kadarnya. Tidak selalu bulan Rabiulawal. Di rumah-rumah yang digelar tradisi ini, pintunya dibuka lebar. Namun untuk ke pelaminan tidaklah mudah, karena bisa saja orang tua tak setuju. Ada solusi lain, yaitu kawin nyolong atau kawin lari, hanya dalam arti positif, yakni dinikahkan dengan resmi. Soal jodoh Suku Osing yakin, selama janur belum melengkung, masih ada kesempatan pihak lain untuk memperistri. Umumnya, perkawinan mereka juga awet.


TRADISI KAWIN COLONG


Di Banyuwangi, masyarakat adat suku Osing mengenal istilah kawin colong, artinya menikah dengan membawa lari pasangan terlebih dahulu. Kawin colong terjadi pada pasangan yang saling mencintai, namun salah satu atau kedua orangtua tak sepakat. Bisa karena sudah dijodohkan atau beda status sosial. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu tidak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.
Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Dalam tradisi kawin colong, orang yang berperan penting dalam menyambungkan hubungan adalah colok/congkok. Colok semacam juru damai atau penyampai pesan. Ia menjadi perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Colok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Biasanya keluarga laki-laki mencari orang yang berpengaruh, seperti sesepuh desa atau ulama sebagai colok. Tujuannya agar orangtua pihak perempuan segan serta bisa luluh dan adem hatinya.

Tidak gampang menjadi colok meski mereka adalah orang yang disegani. Kerap kali colok tetap ikut terimbas luapan emosi. Seorang colok pun harus pintar mendinginkan suasana. Selain membantu dengan memberi perspektif positif tentang pernikahan, colok juga punya trik untuk membuat orangtua pihak perempuan lebih lega.

Terkadang butuh waktu berhari-hari untuk menenangkan hati orangtua. Colok pun harus kerap datang ke rumah untuk meluluhkan hati mereka.

Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimanyan, mengatakan, kawin colongmenggambarkan kearifan masyarakat Using menghadapi persoalan. Colong artinya mencuri, tetapi mencuri untuk dinikahi meski ada proses setengah memaksa di dalamnya.

Tradisi kawin colong sangat jarang berakhir di meja hijau karena masyarakat Banyuwangi menganggapnya sebagai bagian dari adat dan tradisi. Pak RT, pak RW, lurah, atau hansip pun tak akan memperkarakannya ke pengadilan. Bahkan, bisa jadi mereka dulunya adalah pelaku kawin colong. Meski jarang, ada pula yang gagal dan berakhir di pengadilan. Biasanya kasus itu terjadi karena anak yang dicolong bukan berasal dari keluarga Osing.

Kawin colong biasanya berakhir damai dalam keluarga. Orangtua legawa menerima menantu pilihan anaknya. Anaknya pun bisa hidup bahagia dengan pilihannya. 

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.


ARAK-ARAKAN PENGANTIN DAN PROSESI PERANG BANGKAT 

Tradisi perang bangkat dalam pernikahan adat suku Osing, Banyuwangi.
Rombongan arak-arakan pengantin Suku Osing.
Ada tradisi yang unik dalam pernikahan Suku Osing Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, yaitu tradisi arak-arakan pengantin yang begitu ramai hingga memacetkan arus lalu lintas jalan desa setempat.

Dalam tradisi tersebut, pihak pengantin lelaki diarak oleh keluarga dan famili. Yang ikut arak-arakan bukan hanya keluarga pengantin, namun semua barang seserahan dari mempelai laki-laki juga turut diarak. Seperti bantal, guling yang diikat dalam tikar, berikut alat-alat masak. Tak ketinggalan ayam, sendok sayur (irus), telur ayam kampung, kelapa, pisang, beras kuning dan alat makan sirih atau disebut wanci kinang.


Arak-arakan ini juga melibatkan sejumlah kesenian asli suku Using, seperti jaran kecak (kuda terlatih yang bisa menari). Kuda ini mengiringi kereta kuda yang dinaiki pengantin di sepanjang perjalanan. Ada juga Barong Kemiren, kesenian pitek-pitekan, dan kuntulan. Iring-iringan pengantin seperti ini akan berakhir di rumah mempelai pengantin wanita.

Yang menjadi heboh dan menarik dari tradisi iring-iringan pengantin Suku Osing ini, hampir semua warga yang rumahnya dilewati iring-iringan pengantin akan bergabung ke dalam rombongan. Mereka berbaur menjadi satu dengan kerabat, handai taulan dari kedua mempelai pengantin. Sehingga semakin mendekati rumah mempelai wanita, jumlah warga yang mengiringi akan semakin bertambah banyak.

Setiba di dekat rumah pengantin putri, mereka dihadang oleh jambangan. Terpasang selembar kain jarit yang diibaratkan sebagai gerbang. Setelah itu dilanjutkan dengan prosesi Perang Bangkat.

Tradisi perang bangkat suku Osing Banyuwangi.
Prosesi Perang Bangkat dalam pernikahan Suku Osing
Dari dalam gerbang, salah satu keluarga pengantin putri yang jadi penjaga gerbang menanyakan keperluan datangnya rombongan tidak dikenal itu. Begitu dijawab bahwa maksud kedatangannya adalah melamar sang putri, penjaga gerbang itu langsung marah dan menolak mereka. “Kami akan tetap melamar sang putri,” tegas ketua rombongan pengantin putra.

Penjaga gerbang dan ketua rombongan pengantin putri, sempat adu mulut. Hingga akhirnya, keduanya bertarung (perang) dengan menggunakan berbagai senjata. Senjatanya bukan senjata yang lazim digunakan untuk berperang. Mereka menggunakan senjata alat dapur seperti irus, siwur, kelapa, telur dan bahkan ayam hidup. Dalam perang ini, pihak penjaga gerbang ternyata kalah. “Kalau begitu, lamaran saya terima. Tapi, kami minta syarat,” pinta penjaga gerbang itu.

Sebagai syarat, ketua rombongan lalu menyerahkan berbagai ‘upeti’ seperti kasur dan bantal, kembang panca warna, wanci kinangan, wanci kendi, dan sebagainya. “Semua ini, kami serahkan untuk sang putri sebagai syarat,” cetus ketua rombongan mempelai pria.

Perang bangkat ini diakhiri dengan dipertemukan pasangan pengantin. Keduanya, diminta untuk bersalaman sambil didoakan oleh sesepuh suku Using.

Dinamakan Perang Bangkat, lantaran prosesi yang penuh petuah ini selama berlangsung layaknya sebuah perang. Namun bukan perang fisik. Melainkan perang argumentasi yang dikemas dengan sebuah drama antara pihak mempelai laki-laki (Raja) dan pihak mempelai wanita (Ratu). 

Namun Perang Bangkat itu hanya sebatas formalitas belaka sebelum penghulu dari Kantor Urusan Agama menikahkan calon pengantin secara resmi. Meski begitu Suku Using Banyuwangi sangat menjunjung nilai luhur yang terkandung dari upacara tersebut.

Dari ritual perang bangkat tersebut, yang paling ditunggu oleh warga yang menyaksikan dan mengikuti tradisi ini adalah saat beras kuning bercampur uang koin dilempar diakhir acara. Tanpa dikomando lagi akan diperebutkan oleh warga. Terutama bagi mereka yang belum memiliki jodoh. sebab uang-uang koin itu dipercaya dapat menjadi perantara bertemu dengan jodoh masing-masing.

Itulah sekilas pelaksanaan perang bangkat, yang jadi tradisi khusus dalam suku Using pada pernikahan. Dalam upacara itu, peran ketua rombongan dan penjaga gerbang dilakukan oleh sesepuh Suku Using yang dianggap memiliki kelebihan tertentu.

Tradisi perang bangkat dalam pernikahan suku Osing ini tidak berlaku untuk semua pasangan pengantin, tetapi hanya berlangsung dalam kondisi tertentu saja. Yaitu bila kedua pasangan pengantin itu sama-sama anak sulung atau bungsu, maka perang bangkat harus dilaksanakan. Perang bangkat juga dilakukan jika anak sulung mendapat jodoh anak bungsu.

Upacara tradisi perang bangkat ini, semuanya berupa simbol-simbol. Alat perang berupa irus, siwur, kelapa, dan telur, semuanya hanya menjadi simbol agar pasangan pengantin ini bisa langgeng. Irus sebagaia simbol agar pasangan pengantin berlangsung terus sampai kakek-nenek hingga meninggal, sedang siwur itu maksudnya agar jika bicara tidak sembarangan. Perang bangkat ini ibaratnya seperti tolak balak. Kalau tidak melakukan, biasanya pasangan pengantin akan banyak godaan dan rintangan dalam perjalanan hidupnya.

Demikianlah beberapa tradisi yang terdapat di masyarakat suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tradisi-tradisi tersebut hingga saat ini masih berjalan dan terus dilestarikan oleh generasi muda suku Osing. Beberapa diantaranya bahkan dikembangkan dalam bentuk festival. Selain tradisi yang unik, masyarakat Osing juga memiliki seni budaya yang tetap terjaga.

MENENGOK DESA WISATA ADAT USING KEMIREN

Sanggar Genjah Arum, desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi.
Wisata Banyuwangi - Salah satu desa adat di Banyuwangi adalah Kemiren. Desa di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, ini adat dan budaya Usingn/Osingya masih kental dirasakan. Dan salah satu magnet di desa tersebut adalah keberadaan Sanggar Genjah Arum. Sanggar yang dikemas apik dan didesain tradisional ini bak sebuah museum Using, suku asli di Banyuwangi. Pengunjung serasa dibawa menikmati suasana Banyuwangi tempo dulu.

Sanggar Genjah Arum di Desa Kemiren memang milik pribadi seorang pengusaha perkebunan bernama Setiawan Subekti atau biasa dipanggil Iwan. Ahli kopi kelas internasional ini memang sangat peduli dengan pelestarian adat dan Using. Nama Sanggar Genjah Arum diambil dari nama beras yang berkualitas bagus.

Tatanan rumah dan benda-benda kuno di sanggar Genjah Arum seperti menceritakan Desa Kemiren pada masa 50 tahun lalu. Di sana terdapat 7 buah rumah adat Osing, yang ditata tak beraturan di lahan kurang lebih 7000 meter persegi. Rumah kuno tersebut sebagian sudah berusia hampir 100 tahunan yang dikumpulkan oleh Iwan. Bahkan ada rumah yang usianya lebih dari 100 tahun yang ukurannya sangat besar, yang biasanya digunakan untuk berkumpul dan pertunjukan kesenian di sanggar tersebut.

Selain itu, ornamen kuno seperti bebatuan fosil, mesin ketik dan telepon kuno serta bermacam barang berusia lebih dari 50 tahun terpajang di masing-masing rumah kayu khas Using yang berada di sanggar itu.
Sanggar genjah arum, Kemiren, Banyuwangi.

Ada 4 macam bentuk khas adat rumah Banyuwangi, yakni Crocogan, Tikel/baresan, Tikelbalung, dan Serangan. Keempat jenis rumah itu ada di Sanggar Genjah Arum, Kemiren. Dan boleh percaya atau tidak, rumah-rumah tersebut tahan gempa. Struktur utama rumah Osing berupa susunan rangka 4 tiang (saka) kayu dengan sistem tanding tanpa paku, tetapi menggunakan paju (pasak pipih).

Setiap jenis atap rumah adat Osing itu mengandung makna. Atap Crocogan terdiri dua sisi, melambangkan bersatunya laki-laki dan perempuan dalam pernikahan, Tikel Balung terdiri tiga sisi, melambangkan lika-liku kehidupan berumah tangga, dan Baresan terdiri 4 sisi, melambangkan rumah tangga yang sudah beres, atau berjalan baik.

Perbedaan bentuk atap rumah adat Osing tersebut sekaligus menandai status sosial penghuninya. Rumah yang beratap Tikel Balung melambangkan bahwa penghuninya sudah mantap. Rumah Crocogan melambangkan penghuninya adalah keluarga mudah dan atau keluarga yang ekonominya relatif rendah, sedangkan rumah Baresan melambangkan pemiliknya sudah mapan, secara materi berada di bawah rumah bentuk Tikel Balung.

Bentuk bangunan rumah Osing itu sendiri dibagi dalam tiga ruang, yakni Mbyale (balai/serambi) yang biasa digunakan untuk menjamu tamu dan ngobrol santai dengan tetangga dekat.

Kemudian Jerumah (ruang tengah dan kamar) adalah bagian rumah yang biasa digunakan sebagi tempat istirahat dan bercengkrama bersama keluarga, dan Pawon (dapur) yang biasa digunakan ibu-ibu untuk memasak.

Sedangkan motif ukiran yang umumnya ada di bagian rumah atau perabotan orang Osing ada beberapa motif. Ada motif Srengenge (matahari) yang melambangkan harapan akan masa depan rumah tangga yang cerah, Bunga Paremelambangkan perjalanan kehidupan rumah tangga yang menjalar, Kawung yang bermakna pasangan yang sudah menikah tidak boleh mencari lagi yang lain dan motif Selimpet yaitu garis-garis berpola yang saling berhubungan atau tidak ada ujung pangkal, seperti belas kasih yang tak berujung.

Kini Sanggar Genjah Arum menjadi jujugan wisatawan yang ingin mengenal dari dekat rumah khas Using. Bupati Banyuwangi, Azwar Anas sering mengajak dan menjamu tamu kehormatannya di Sanggar tersebut untuk menikmati seni budaya dan kuliner khas suku Using.

Bagi pengunjung Sanggar Genjah Arum, ada lima suguhan Istimewa yang bisa dinikmati, yaitu :

Angklung Paglak
Paglak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Paglak adalah gubuk kecil sederhana tanpa dinding yang terbuat dari bambu dan beratap ijuk (anyaman daun kelapa), yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak umumnya berukuran hanya 2x3 meter dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah, ditopang empat bumbu utuh sebagai kaki penyangga. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya.

Awalnya, fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjaga sawah sembari bermain alat musik angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak. Angklung paglak juga dimainkan pada saat panen padi di Desa Kemiren. Versi lain, konon musik tersebut dulunya diciptakan untuk mengejek para penjajah kolonial. Untuk memainkan musik tersebut dibutuhkan keberanian dan konsentrasi ekstra karena bertempat di ketinggian. Orang-orang Belanda yang ditantang untuk memainkan musik di ketinggian,  tidak berani dan mengakui bahwa orang pribumi jauh lebih berani daripada mereka.

Angklung Paglak biasanya dimainkan 4 pemian laki-laki, yang terdiri dari 2 pemain angklung dan 2 orang pemukul kendang. Seperti namanya, kesenian ini harus dimainkan di atas ketinggian dari bilik Paglak. Meski begitu tidak ada perasaan takut bagi seniman saat tampil. Justru sebaliknya, bermain dari ketinggian membuat mereka semakin asyik memainkan alat musik yang diiringi canda dan senyuman. Ditambah lagi dengan ketinggian paglak, ketika angin bertiup kencang, maka panggung semakin bergoyang. Bukannya takut, hal ini justru membuat pemain angklung semakin bersemangat.

Angklung Paglak khas Banyuwangi.

Angklung Paglak haruslah memainkan lagu-lagu kuno yang diyakini mengandung nilai spiritual dan petuah kehidupan. Seperti lagu Jaran Dawuk, Gunung Sari, Lemar limir, Gondorio, Kembang jeruk dan masih banyak lagi. Uniknya semua lagu ini tanpa lirik (semacam Mozart) dan siapa penciptanya masih misterius. Yang pasti lagu kuno tersebut dipertahankan sebagai ciri khas kesenian Angklung Paglak.

Paglak pun mengalami transformasi dari yang dulu didirikan di sawah untuk mengusir burung berubah menjadi aksesori budaya di halaman rumah atau perkantoran. Paglak di Sanggar Genjah Arum milik Setiawan Subekti itu berdiri di balik pintu gerbang barat. Tingginya sekitar 15 meter. Angklung paglak pun menjadi kesenian khas Banyuwangi yang disuguhkan untuk para tamu atau turis yang berkunjung ke Sanggar Genjah Arum.


Tarian Barong Kemiren
Barong desa Kemiren, Banyuwangi.
Tarian Barong Kemiren ini disuguhkan sebagai penyambut para tamu yang akan hadir. Sebelum memasuki sanggar, para tamu akan diarak bersama penari dan pemain musik Barong memasuki gerbang Sanggar yang terletak paling ujung Desa Kemiren tersebut. Kemudian di dalam halaman sanggar tersebut, Barong yang sudah berusia hampir 100 tahun itu menampilkan atraksi tarian.

Barong memiliki arti bareng (bersama), untuk masuk ke dalam tempat yang kita anggap memiliki makna. Wisatawan tidak hanya melihat atraksinya, namun filosofi yang terkandung dalam tarian Barong yang artinya kebersamaan. Atraksi Barong Kemiren ini berlangsung selama 15 menit. Barong meliuk-liuk menyelaraskan musik yang dibunyikan. Kemudian adanya penari "pitik-pitikan" menambah keindahan tarian Barong tersebut.

Othek (Musik Lesung)
Musik Gedhogan ala desa adat Kemiren, Banyuwangi.
Musik Gedhogan ala Desa Kemiren.
Selain menikmati Tari Barong Kemiren, para pengunjung juga akan disuguhi penampilan "girlband" khas Kemiren. Mereka bukanlah perempuan-perempuan cantik, melainkan wanita-wanita yang sudah uzur, memainkan alu dan lesung (kayu tempat menumbuk padi). Mereka bergantian memukul lesung-lesung dihadapan mereka. Musik yang dimainkan mbah-mbah ini disebut Gedhogan. Biasanya diiringi oleh pemain biola tradisional dan angklung paglak. Kesenian ini merupakan warisan budaya asli Osing, Suku asli Banyuwangi.

Pada saat masa panen tiba, para petani menggunakan ani-anak diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah. Saat menumbuk pada, para perempuan memainkan tradisi Gedhogan, yaitu memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi ritmis yang enak didengar. Dari sinilah tradisi Ghedhogan bermula.



Tarian Gandrung yang Mempesona

Tari Gandrung desa adat Kemiren, Banyuwangi.
Tari Gandrung sebenarnya sebagai tari pembuka dalam menyambut tamu. Tapi di Sanggar Genjah Arum, tarian ini disuguhkan ketika tamu sudah bersantai dan menikmati suasana Banyuwangi tempo dulu.

Para penari yang biasanya berjumlah 3 orang itu, menarikan sejumlah babakan (bagian) tarian gandrung Banyuwangi. Setelah itu, penari membawa selendang untuk diberikan kepada tamu yang menonton disana.

Bagi yang terpilih dan menerima selendang dari gandrung, diwajibkan untuk menari bersama gandrung. Hal ini merupakan bagian dari tarian Gandrung yang disebut "Paju Gandrung". Secara silih berganti, para gandrung tersebut mengajak para tamu untuk ikut melantai.






Nikmatnya Kopai Using
Jangan menyesal pernah ke Desa Kemiren tapi tidak mencicipi kopinya. Sebab Kopi olahan masyarakat Desa Adat Using Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi, cukup dikenal karena cita rasanya yang khas. Kopi yang diproduksi Paguyuban Tholik Kemiren (Pathok), ini memiliki cara tersendiri dalam proses pembuatannya.

Tak hanya mencicipi, pengunjung dipersilahkan praktek secara langsung. Mulai dari proses menyangrai, menumbuk biji kopi yang matang, menyaring bubuk kopi hingga praktek cara penyajian kopi yang benar sehingga menghasilkan kopi yang bercita rasa tinggi.

Rasa kopi yang diolah secara benar ini, dipastikan akan menggetarkan lidah dan ruang mulut anda. Karakter 'Kopai Using' akan terasa. Anda bisa memesan kopi olahan seperti house blend, kopi murni Arabica atau pun Robusta, baik yang expresso maupun regular, semua dijamin menggetarkan lidah Anda.

Sambil menikmati penampilan seni budaya di Sanggar Genjah Arum, secangkir kopi dan jajanan khas Banyuwangi seperti tape buntut, bolu kuwuk dan bermacam gorengan, menambah nikmatnya menikmati suasana di Sanggar Genjah Arum.
Menikmati kopi Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi
Pengunjung bisa duduk-duduk dan menyeruput kopi di balai rumah 

RAHASIA KOPI USING
Di Desa Kemiren, menyangrai kopi sesuai standart internasional telah diperkenalkan dan dibudayakan oleh Tester kopi internasional, Setiawan Subekti, yang menjadi mentor warga kemiren untuk belajar mengolah kopi menjadi sajian minuman yang istimewa. Karena itu tidak heran sajian kopi di Desa Kemiren memiliki cita rasa tinggi.

Untuk mendapatkan sajian kopi yang berkualitas kuncinya terletak pada pemilihan biji kopi pilihan dan proses pengolahan yang benar.
Kopi osing khas desa Kemiren, Banyuwangi.
Proses pengolahan kopi Osing.
Yang pertama, memilih biji kopi robusta yang baik. Biji kopi yang dipilih harus memiliki kadar air tidak lebih dari 15 persen. Biji kopi asal Banyuwangi, khususnya kopi yang dihasilkan dari perkebunan yang berada di sisi timur dan sisi barat Gunung Ijen, adalah salah satu yang terbaik di dunia. Kopi yang dihasilkan antara sisi barat dan timur Gunung Ijen memiliki cita rasa yang berbeda. Perkebunan yang menghadap ke Timur mendapat sinar matahari yang lebih banyak, dan menghadap ke laut, sehingga kadar garamnya tinggi. Sebaliknya perkebunan di sisi barat dipengaruhi oleh angin gunung. Namun keduanya menghasilkan kopi yang sama enaknya.

Usai memilah, biji kopi selanjutnya disangrai diatas loyang yang terbuat dari tanah liat. Loyang tanah liat dipilih karena mampu menyimpan suhu panas yang stabil saat dipakai untuk menyangrai biji kopi.

Suhu yang stabil diperlukan saat proses menyangrai. Karena, biji kopi akan matang secara merata dan sempurna. Selain itu, proses dan teknik menyangrai menjadi faktor penting untuk menciptakan citarasa kopi itu sendiri. Sebab sebaik apapun kualitas biji kopi jika cara menyangrainya salah maka kopi akan tidak memiliki citarasa yang bagus. Biji kopi yang disangrai tidak harus hitam, karena itu artinya biji kopinya sudah gosong dan rasanya tidak enak. Menyangrai kopi cukup 20 menit saja.

Biji kopi yang matang selanjutnya dipindahkan ke nyiru dan segera diangin-anginkan. Itu perlu dilakukan agar kopi cepat dingin.

Sebelum ditumbuk, biji kopi terlebih dahulu disimpan selama 3 hari, atau minimal 1x24 jam. Dengan tujuan mengurangi kandungan getah di biji kopi. Usai ditumbuk hingga hancur, selanjutnya disaring (diayak) untuk menghasilkan bubuk kopi yang halus.

Kopi Jaran Goyang
Kopi Kemiren yang diberi nama Kopi Jaran Goyang ini juga memiliki komposisi dalam penyajiannya. 1 Cangkir kopi, cukup 1 sendok makan bubuk kopi. Air yang digunakan untuk menyeduh dianjurkan air mendidih yang didiamkan sekitar setengah menit.

Selanjutnya air dituang cukup separuh cangkir dan diaduk pelan sembari dituangkan kembali air yang sama hingga hampir penuh.

Sebelum meminum, hidung harus didekatkan pada bibir cangkir. Setelah aroma kopinya merasuk ke hidung, baru diseruput. "Harus sampai bunyi sruuuut. Sebelum ditelan, tahan dulu di mulut sampai rasanya menempel di lidah," papar Iwan.

Itulah Kopai Osing! kopi khas asli Banyuwangi yang terkenal dengan jargon "Sekali Seduh Kita Bersaudara".




BANYUWANGI DALAM VIDEO KLIP SYAHARANI

Video klip Syaharani Morning Coffee
Wisata Banyuwangi - Video klip dengan latar belakang pemandangan alam dan budaya Banyuwangi sudah banyak dibuat oleh penyanyi lokal Banyuwangi. Tapi video klip yang bercerita tentang Banyuwangi, yang dibawakan oleh penyanyi Jazz sekelas Syaharani dan grup bandnya, yang bukan sekedar menyuguhkan alam dan budaya sebagai latar belakang saja, tapi melibatkan seluruh personil berinteraktif dengan lingkungan setempat sebagai bagian utuh dari proses kreatif pembuatan video klip tersebut, mungkin baru kali ini dilakukan.

Dalam rangka promosi album ketiganya yang berjudul Selalu Ada Cinta, Syaharani and QueenFireworks (Esqi:Ef) membuat dua buah video klip. Bukan secara kebetulan jika Syaharani kemudian memilih Banyuwangi sebagai lokasi pembuatan video klip tersebut.

Bagi Syaharani, Banyuwangi bukanlah kota yang asing. Di masa lalu ia pernah mengunjunginya, dan bersama grup bandnya, dua kali ia mengisi acara Banyuwangi Jazz Festival pada tahun 2012 dan 2013. Bahkan pada Banyuwangi Beach Jazz Festival 2013, ia sempat membawakan sebuah lagu etnik Banyuwangi yang diaransemen bersama pemusik lokal, dan dibawakan secara berkolaborasi dengan penari dan penyanyi legendaris Banyuwangi, Mbok Temuk.

Syaharani dan Mbok Temuk
Kolaborasi Syaharani dan musik etnik Banyuwangi dalam Banyuwangi Beach Jazz Festival 2013.

Hasil kolaborasi tersebut membuat Syaharani  menyelami  sekaligus mengagumi kekayaan musik dan budaya lokal Banyuwangi. Ia heran melihat banyak bertebaran sanggar seni yang aktif berkegiatan.
"Saya sudah berkeliling ke banyak daerah, tapi Banyuwangi ini beda, kekayaan seni budaya, seperti gandrung, angklung paglak, kuntulan, janger, barong, jaranan butho, dan gedhogan, luar biasa mengakar di masyarakat. Saya akan terus berrakolaborasi dengan musisi etnik lokal," katanya saat itu.

Ketika menyaksikan pertunjukan Gandrung yang dibalut tarian dan nyanyian yang sangat khas, ia sempat menitikkan air mata. Ia sangat terkesan dengan penari Gandrung yang memiliki cengkok dan pola berbeda dari teknik vokal pada umumnya.

Dan, yang membuat tambah kagum ternyata masyarakat Banyuwangi masih meminatinya. Padahal, zaman sekarang segala hal yang berkaitan dengan pertunjukan tradisional mulai ditinggalkan penontonnya karena tergerus oleh budaya pop yang mengglobal.

"Mereka memberikan perhatian yang gede banget terhadap Gandrung. Bukan main itu. Local star-nya juga benar-benar ada dan ditunggu-tunggu banyak orang," ucapnya.

Mengenai kulinernya, Ia menuturkan orang Banyuwangi full fusion. Makanannya unik-unik. Mereka suka mencampurkan dua jenis makanan yang berbeda. Ada makanan rujak dicampur soto. Ada juga pecel dimakan pakai rawon. "Yang menarik, makanan itu dijajakan di warung-warung. Mereka tuh fusion banget. Aku juga suka makan nasi tempong. Kalau makan sambalnya tuh enak banget," ucapnya.

Bukan hanya seni budaya nya, bagi pemilik nama Saira Syaharani Ibrahim ini, wilayah di ujung timur Pulau Jawa ini begitu istimewa. “Di sana saya temukan pantai yang enak untuk santai. Saya sempat pula ke Plengkung. Karena di sana saya juga ada teman, maka saya pilih bikin klipnya di Banyuwangi,” akunya.

Janji itu dibuktikan dengan membuat dua video klip untuk album barunya, yaitu Coffee Morning dan Selalu Ada Cinta.

MORNING COFFEE
Pengambilan gambar untuk melengkapi video Morning Coffe ini dilakukan selama dua hari pada Oktober 2013. Syaharani dan tim mengeksplorasi sejumlah tempat di Banyuwangi. Morning Coffee bisa diartikan sebagai secangkir kopi di pagi hari.

Bagi Syaharani, pagi itu istimewa. Pagi adalah saat yang harus disambut dengan optimisme dan penuh semangat. Pagi juga merupakan momen yang harus dirayakan sebagai ungkapan rasa syukur. Karena pagi pula yang jadi awal setiap langkah untuk jalani perjalanan selama sehari penuh.
“Pagi itu harus dirayakan dengan keceriaan, dan jangan memulai hari dengan kusut. Pagi harus dimulai dengan minum secangkir kopi, memandang langit, atau mendengarkan kicauan burung,” tutur Syaharani.

Gagasan ini dituangkan dalam  video trip Morning Coffee yang seluruhnya berlokasi di Banyuwangi. Video dibuka dengan suasana pagi hari di Pulau Merah, dimana Syaharani dan kawan-kawan yang sedang berkemah menyambut hangatnya sang mentari dengan secangkir kopi sambil membuka laptopnya yang mendokumendasikan cerita di balik video Morning Coffee.
Syaharani ketika di Kawah Ijen
Kisah pun bergulir bergulir dari satu adegan ke adegan lain. Mulai dari keliling berbagai sudut kota dengan mengendarai vespa maupun sepeda onthel, menelusuri jalanan, taman kota, bangunan lama sampai blusukan ke pasar tradisional dan menikmati jajanan khas Banyuwangi, lalu dilanjutkan penjelajahan ke tempat-tempat wisata di Banyuwangi seperti Desa Kemiren, Kawah Ijen, selain Pulau Merah yang menjadi sentral kisah.
Video klip Morning Coffee di desa Kemiren, Banyuwangi.
Pengambilan gambar di desa Kemiren.
Lagu Morning Coffee yang berirama ceria dalam balutan rock n roll itu, menurut penyanyi yang akrab disapa Rani ini, bisa membuat mata yang sayu sehabis bangun pagi jadi terang-benderang. Bahkan, irama dan liriknya mampu melahirkan semangat serta harapan untuk menghadapi hari-hari yang menyibukkan.

Morning Coffee sendiri, lanjutnya, mengajak orang agar berpikir positif tiap pagi hari. "Intinya mengajak menghargai moment pagi, bukan kopinya. Ambil moment positif, semangat baru bagi diri dan kita tularkan," imbuh Syaharani.

Ini tercermin dalam paduan antara alunan musik energik dan visualisasi gambar  yang bergerak dinamis  dalam video yang berdurasi 4.47 menit ini. Karena berisi perjalanan di sejumlah tempat itu, maka Syaharani lebih suka menyebut video klip Morning Coffee sebagai video trip.



SELALU ADA CINTA
Video klip "Selalu Ada Cinta" menampilkan suasana kebersamaan para personel saat main ke Banyuwangi. Syaharani, Donny Suhendra (gitaris), Didit Saad (gitaris), Trias Fajar Anugrah (keyboard), Andy Gomez Setiawan (keyboard), Kristian Dharma (bass), dan Sirhan M Bahasuan (drum), semua muncul di video ini dengan ekspresi natural.

Salah satu yang unik, di video klip ini, ada adegan Syaharani mengulek cabai yang kemudian ia hidangkan untuk teman-temannya. "Adegan ulekan itu rumit sebenarnya. Saya pegang cobek dan kamera sendiri," tutur Syaharani.

Aditya Pratama, sang sutradara video klip sengaja mengangkat keseharian yang jarang dilakukan masyarakat kota itu ke layar. Adegan mengulek cabai di video klip ini bukan cuma sekadar lucu-lucuan. Ada ungkapan untuk menghargai  alam dan lingkungan sekitar.

"Saya ingin sesuatu yang unik mulai dari cara Mbak Rani ulek cabainya sampai sudut pandangnya ketika menyajikan sambal itu. Itu merupakan hal yang natural. Kalau di Jakarta kan orang jarang melakukan aktivitas mengulek, dan jarang ada dapur yang masih pakai tungku," jelas Aditya.

Proses pembuatan video klip kali ini dikatakan Adit cukup santai, karena ia tidak harus menargetkan harus cepat selesai. "Proses pembuatannya lima hari, dan kami memang enggak mau sampai larut malam. Kami betul-betul sudahi syuting ketika matahari terbenam, dan langsung istirahat. Waktu lima hari pun kami buat untuk dua video," ungkap Adit.

Video trip tersebut juga menggambarkan pengalaman baru yang mereka dapat selama di Banyuwangi, seperti adegan Syaharani mengayuh becak.

"Senangnya itu tadi, banyak pengalaman baru, seperti mengayuh becak. Kami naik becak, tapi kata Mas Adit, 'Sekarang lo yang kayuh becak.' Saya jadi mikir, jadi tukang becak membutuhkan skill juga, kalau enggak nanti becaknya belok sana, belok sini. Ada banyak hal lucu dan bikin mikir," kisah Rani. 

Video klip Syaharani and QueenFireworks, juga melibatkan seni tradisional. Ada adegan, mereka bersenang-senang di pematang sawah mengikuti gerakan maestro Gandrung Banyuwangi Temuk. Mereka lenggak-lenggok sekenanya.
Video klip Selalu Ada Cinta, Syaharani.

"Sebenarnya (Temuk) sudah pernah berkolaborasi sama kami waktu satu panggung di festival Banyuwangi. Tapi kami senang dan bangga. Beliau juga senang banget. Yang menyanyi dan menari gandrung satu paket memang sudah tinggal sedikit di Banyuwangi. Jadi kami sangat-sangat senang bisa menghadirkan dia. Pesannya supaya bisa sampai; ada kearifan lokal dan kesederhanaan. Titik pandangnya juga dari sini," ujar Syaharani.

Senafas dengan pesan yang terkandung di liriknya "Selalu Ada Cinta", Syahrani and Queenfireworks mengajak penikmat musik untuk merayakan perbedaan.  "Enggak ada orang yang 100 persen benar-benar sama saudara kembar pun pasti punya perbedaan. Perbedaan itu adalah keadilan dari Tuhan," kata Rani.