PESONA PANTAI PULAU MERAH

Indahnya pulau Merah di Banyuwangi

Pulau Merah, demikian biasa orang menyebut pulau kecil yang berada di pantai Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Pulau Merah di selatan Kabupaten Banyuwangi ini berhasil memikat wisatawan melalui bentuknya yang menyerupai pegunungan yang berada di tengah pantai.

Wisata Pulau merah, Banyuwangi

Perpaduan akan kejernihan airnya yang seperti kristal dan dilengkapi pasir putihnya yang menghampar sejauh 3 km, menambah kecantikan pulau.
Di bagian timur pantai nampak barisan gunung. Banyaknya pepohonan kelapa dan pisang membuat pulau nampak subur. Sementara pada bagian selatan pulau, pengunjung bisa menikmati keindahan matahari tenggelam.
Perpaduan pantai dan gunung
Ketika laut surut, para pengunjung dapat mengunjungi tempat ini dengan berjalan kaki menikmati keunikan gunung kecil yang berada ditengah pantai yang warna tanahnya berwarna merah, karena itu dinamakan pantai Pulau Merah. Pada saat pasang surut itu terlihat tanahnya merah. Ada juga yang mengatakan disebut Pulau Merah karena tepian bebatuan pantainya nampak berwarna seperti tanah merah. Padahal pada awalnya, pantai ini disebut Pantai Ringin Pitu.

Pergeseran nama dari Pantai Ringin Pitu menjadi Pulau Merah ini ada dua versi. Menurut versi pertama, karena warna tanah dan pasirnya yang kemerahan dari pulau setinggi 200 meter itu. Sedangkan versi kedua mengatakan, konon dari Pulau Merah yang ada di hadapan pantainya yang berjarak sekitar 100 meter, dulunya pernah terpancar cahaya merah, sehingga warga sekitar akhirnya menamainya Pulau Merah.



Ombak besar di pantai yang berada di Teluk Pancer ini disukai para penggemar olahraga surfing atau selancar. Di waktu-waktu tertentu banyak wisatawan asing yang berselancar. Suasananya yang sejuk dan disempurnakan dengan jejeran pegunungan hijau membuat pengunjung seperti berada di surga. 

Pantai pulau merah Banyuwangi

Pemkab Banyuwangi sendiri sudah bertekad menjadikan Pulau Merah sebagai destinasi untuk berselancar yang menjadi salah satu andalan wisata Banyuwangi. Salah satunya melalui kejuaraan International Surfing Competition di Pantai Pulau Merah, pada 24-26 Mei 2013 yang diikuti surfer dari 20 negara. 


Kondisi ombak Pulau Merah sangatlah cocok bagi para peselancar dari beragam tingkat, mulai dari pemula hingga professional. Pantai pulau merah lebih menjorok ke dalam dan tidak memiliki banyak batu karang seperti halnya di Pantai Plengkung, sehingga lebih aman bila digunakan berselancar bagi pemula. Angin laut Pulau Merah boleh dibilang cukup kencang sehingga menyebabkan gelombang lautnya relatif tinggi, bisa mencapai 4-5 meter. Tak salah jika banyak orang mengatakan bahwa kawasan Pulau Merah seperti Pantai Kuta, Legian, dan Seminyak di tahun 1970-an silam. Pantai Pulau Merah sangat tepat untuk dijadikan kawasan sekolah selancar. 



Aksi surfer cilik di Pantai Pulau Merah.
Bagi Anda yang berminat bermain selancar tidak harus repot membawa papan selancar dari rumah, karena Anda dapat menyewanya di lokasi, dengan ongkos sewa Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu Anda dapat berselancar sepuasnya.


Untuk Anda yang hobi memancing bisa menyewa perahu tradisional untuk mendapatkan beragam jenis ikan sebanyak mungkin.  Aktivitas lainnya yang bisa dilakukan adalah snorkeling atau menyelam. Bermain air dan pasir bersama kawan atau keluarga tentunya akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bermain bola, voli atau cukup berjalan-jalan menyusuri pantai adalah pilihan yang lain yang bisa Anda lakukan.
Pasir di Pantai Pulau Merah relatif masih bersih dari bungkus dan sisa-sisa makanan, tapi jika kita tidak menjaga dan merawatnya bersama, dengan berjalannya waktu,  keindahan  itu hanya menyisakan kenangan.

Pulau Merah Banyuwangi

Pesona pulau merah tak hanya itu, tersedia pula tempat berjemur di sepanjang pantai yang kian memanjakan wisatawan. Tak heran pulau merah mendapat sebutan pantai Kuta-nya pulau Jawa. Sebutan ini bukan tanpa sebab berkat promosi international surfing, wisatawan mancanegara mulai berdatangan untuk berjemur atau berselancar.
Deretan payung di Pantai Pulau Merah bisa disewa untuk berjemur  atau pun bersantai.
Di pinggir pantai Pulau Merah banyak ditumbuhi pohon Mangrove yang berjejer rapi yang bisa dimanfaatkan berteduh terutama di siang hari yang terik.
Setelah capek menyusuri pantai, bersantai di bawah pohon Mangrove bisa menjadi pilihan yang menarik.
Terutama bagi pasangan muda-mudi.
Keamanan di lokasi pantai Pulau Merah cukup terjaga, karena ada petugas yang mengatasi pantai sekaligus menjalankan fungsi rescue (life guard) khususnya terhadap pengunjung yang berenang. Di sini terdapat sebuah menara pandang setinggi sekitar 5 meter yang digunakan untuk melihat situasi di sekitar pantai.

Salah satu kelebihan pantai Pulau Merah terletak pada kebersihannya. Setidaknya ada lima petugas yang khusus menangani sampah di area wisata ini. Mereka setiap saat memungut, menyapu dan mengumpulkan sampah, daun kering atau sisa kotoran yang ditinggalkan para pengunjung. Di beberapa titik pantai pun disediakan tong-tong sampah. Selain itu ada petugas lain yang mengambil sampah dengan gerobak kuning untuk dibuang di tempat pembuangan akhir.
Petugas dengan gerobak sampah nya siap mengambil sampah yang berceceran. Namun yang paling penting adalah peranserta dan kesadaran pengunjung dalam ikut menjaga kebersihan pantai Pulau Merah.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati keelokan panorama saat matahari terbenam (sunset) pun dijamin tak bakal menyesal. Warna keemasan akan muncul ketika detik-detik matahari terbenam di bagian barat pantai.

Selain menikmati keindahan pulau Merah, arahkan langkah anda ke barat di tempat penampungan ikan (TPI) Pancer. Di TPI terbesar nomor dua di Banyuwangi ini anda bisa mendapatkan ikan yang murah dan dapat dibakar di pantai atau untuk dibawa pulang.

Tak jauh dari pantai, terdapat Pura Segara Tawang Alun. Pura umat Hindu ini dibangun pada 1980, sering dikunjungi dikunjungi umat Hindu dari Bromo dan Bali. Pada saat terjadi tsunami pada tahun 1994, tembok luar pura ini ikut luluh lantak dari terjangan ombak yang ganas. Namun bagian dalam bangunannya, yang disebut Palinggih Padmasana, tidak mengalami kerusakan berarti.

JALAN MENUJU PULAU MERAH
Bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pantai Pulau Merah, harus rela menempuh perjalanan sejauh 60 Kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.

Rute arah selatan Banyuwangi ini melalui jalan jalan pedesaan dan bebukitan. Bila mengendarai mobil, perjalanan bisa ditempuh selama hampir 2,5 jam. Rutenya mudah dijangkau karena di setiap persimpangan selalu ada penunjuk jalan. Infrastruktur jalan yang memadai memberi kenyamanan bagi wisatawan.

Jika menggunakan kendaraan umum menuju Pulau Merah, Anda dapat memanfaatkan angkutan umum dari Terminal Banyuwangi menggunakan bis jurusan Pesanggaran. Selanjutnya Anda bisa naik ojek ke Pulau Merah.

Jika Anda dari arah Jember, dapat turun di Terminal Jajag, kemudian ganti naik bis ke Pesanggaran. Sedangkan jika Anda turun dari Bandara Blimbingsari sebaiknya menyewa kendaraan menuju Pantai Merah.


Halaman depan Pulau Merah. Disekitar ini banyak warung makanan-minuman yang dijajakan warga setempat. Hal ini karena lokasi Pulau Merah berada dekat dengan pemukiman warga.


Tempat parkir di Pantai Pulau Merah sangat luas dan terlindung di bawah pepohonan yang tinggi. Tempat parkir antara sepeda motor dan mobil dipisahkan. Di sini juga terdapat fasilitas kamar mandi/WC yang cukup bersih. Antara tempat parkir dengan pantai hanya berjarak sekitar puluhan meter saja. Kemudahan seperti ini secara tidak langsung ikut mendukung daya tarik wisatawan mengunjungi Pantai Pulau Merah.

Lingkungan pantai Pulau Merah yang bersih. 
Sisi timur Pantai Pulau Merah : Pulau Merah (kanan) berhadapan dengan gunung Tumpang Pitu (kiri).

Sisi barat Pantai Pulau Merah. Jika Anda menyusuri garis pantainya sepanjang kurang lebih 4 km maka akan menemukan perkampungan nelayan Pancer.Di sini Anda bisa menyewa rumah warga untuk menginap dan Anda akan merasakan keramahan dan kesahajaan nelayan.
                              Senja di Pantai Pulau Merah

Suasana malam hari di Pulau Merah

PANTAI TELUK HIJAU, SURGA YANG TERSEMBUNYI DI BANYUWANGI

Banyuwangi  tak hanya memiliki Pantai Plengkung yang indah, tapi juga Teluk Hijau. Teluk Hijau atau juga sering disebut Green Bay, namanya mungkin tidak sepopuler Rajegwesi atau Sukamade. Tetapi teluk ini mempunyai daya tarik tersendiri dengan pesona pasir putih nan lembut, air terjun setinggi 8 meter dan pemandangan karang yang indah. 

Sesuai dengan namanya, teluk ini berwarna hijau jika dilihat dari jauh. Ini berbeda dengan kebanyakan teluk atau laut yang biasanya berwarna biru. Warna hijau tersebut karena di dasar perairan dangkalnya terdapat alga yang memantulkan warna hijau di permukaan perairannya.

Teluk Hijau terletak di Kabupaten Banyuwangi, bagian selatan Pesanggrahan, Desa Sarongan. Wilayahnya termasuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Inilah surga yang tersembunyi di Banyuwangi. Pantai yang masih tersembunyi dan sepi ini memiliki hamparan pasir putih yang menawan. Pasirnya begitu halus, sehingga mudah melekat di kulit. Perpaduan antara pasir putih, air laut yang jernih berwarna kehijauan dan suasana yang asri akan membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum.

Kebanyakan wisatawan mengunjungi Taman Nasional Meru Betiri dan Sukamade sebagai tujuan utama. Sebelum sampai di dua tempat tersebut, kita akan melewati Teluk Hijau. Sehingga Teluk Hijau hanya menjadi tempat persinggahan. Pengunjung hanya berhenti sejenak dan melihat Teluk Hijau yang eksotis dari kejauhan di atas bukit. Namun surga Teluk Hijau yang sebenarnya berada di pantainya.

Untuk mencapai Teluk Hijau memang membutuhkan perjuangan yang menantang adrenalin. Melalui jalan setapak yang curam dan berbatu, pengunjung harus menuruni bukit dan menembus hutan dengan pepohonan yang besar-besar. Setelah melewati medan yang cukup menguras stamina, Anda akan sampai di daerah yang terbuka. 

Terdengar deburan ombak besar menghantam karang. Suaranya tidak seperti suara ombak, tapi bergemuruh seperti suara batu-batu yang berjatuhan. Dihadapan Anda terbentang pantai, tapi jangan terkecoh, ini bukan Teluk Hijau. Pantai yang Anda lihat dipenuhi hamparan bebatuan bulat yang tediri berbagai ukuran besar-kecil yang tersusun rapi di sepanjang garis pantainya. Hampir tidak nampak pasir layaknya pantai pada umumnya. Inilah Pantai Batu. Konon dulunya pantai ini berpasir, tapi sejak terkena tsunami di tahun 1994, mendadak dipenuhi banyak batu yang diperkirakan berasal dari dasar laut.


Seperti namanya, Pantai Batu, pesisir pantai ini tertutup oleh batu-batu sungai yang berukuran kecil dan besar, nyaris tidak tampak pasir di pantai ini.
Dari pantai Batu, lokasi Teluk Hijau semakin dekat. Karena letaknya memang bersebelahan. Tapi bagi yang pertama kali datang ke sini, mungkin akan sedikit kesulitan menemukan jalan akses ke Teluk Hijau, bahkan bisa saja bingung dan putus asa. Tidak heran karena letaknya memang agak tersembunyi di balik bukit karang kecil di sisi barat Pantai Batu. Padahal jaraknya tinggal 300 m lagi.



Anda harus menemukan akses "rahasia" untuk masuk ke pantai Teluk Hijau. Jangan menyerah! Lanjutkan langkah kaki lurus saja masuk hutan lewat ujung jalan setapak, melewati aliran air seperti sungai kecil, melewati bagian belakang bukit karang dengan pepohonan yang rimbun, sampai kemudian Anda menemukan dua batu karang yang berhadapan, berarti Anda sudah menemukan surga tersembunyi di Banyuwangi. Pantai Teluk Hijau di depan mata! Hamparan pasir putih seolah menyambut kedatangan Anda di teluk yang indah ini.
Tebing Karang yang memisahkan Pantai Batu dengan Teluk Hijau.



Langkahkan lagi sedikit kaki dan Anda pun akan tiba di Teluk Hijau yang berpasir putih dan airnya sangat jernih. 

Jika menemukan papan ini berarti Anda sudah berada di surga Teluk Hijau.
Mungkin Anda akan berteriak woow atau berdecak kagum saat berdiri di depan pantai Teluk Hijau yang membentang di hadapan Anda. Segala kelelahan pun terbayarkan. Mendadak suasana hati pun terbawa puitis.


Pasir putih yang hangat ....
Air laut yang hijau....
Karang-karang yang artistik ...
Air terjun tawar yang mempesona ....
Pepohonan hijau ...
Ombak laut yang seksi ....

(ungkapan hati seorang blogger tentang keindahan Teluk Hijau)

Tidaklah terlebihan jika pujian dan kekaguman disematkan untuk pesona keindahan alami pantai Teluk Hijau. Pantai yang cantik ini berpasir putih dan airnya yang sangat jernih berwarna hijau kebiru-biruan. Pasirnya begitu halus, sehingga mudah melekat di kulit. Perpaduan antara pasir putih, air laut yang jernih berwarna kehijauan, ombak yang tenang dan suasana yang asri akan membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum. Sejauh mata memandang Anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah nan mempesona.



Landscape Teluk Hijau, surga di Banyuwangi selatan

Pantai Teluk Hijau, Green Bay, Banyuwangi.




Hamparan air laut yang jernih pantai Teluk Hijau
Cara lain menikmati surga Teluk Hijau, duduk santai di pasir pantai  putihnya





















Eksotisme karang di Teluk Hijau


Teluk Hijau dilihat dari udara sangat cantik.

Di sini kita bisa berenang atau sekedar bermain air di pantainya. Tidak jauh dari pantai terdapat bukit  kecil. Di satu sisinya ada bebatuan berwarna kuning kecoklatan. Di sisi timur sekitar 20 meter dari pantai kita akan menjumpai air terjun dengan debit air yang sedang. Benar-benar unik bukan? Selama musim hujan volume air akan lebih cepat dan indah. Jadi meskipun jauh dari pemukiman, anda tidak perlu susah susah mendapatkan air bersih untuk membilas badan selepas berenang di pantai. 
Air terjun kecil untuk membilas badan setelah berenang di pantai

Keberadaan air terjun setinggi 8 meter ini ternyata mempunyai kisah mistis yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Konon, air terjun dengan dinding batunya yang menjulang tinggi ini adalah tempat mandi para bidadari.

Menurut cerita masyarakat Rajegwesi, setiap musim hujan akan terlihat pelangi indah yang menggantung diatas perairan teluk Rajegwesi. Fenomena pelangi ini akan berlangsung hingga beberapa hari sebelum akhirnya hilang secara perlahan. Sejumlah warga yang penasaran mencoba mencari hulu dari pelangi yang membentang dari arah barat ke timur tersebut.

Percaya atau tidak, namun banyak warga yang mengatakan jika hulu pelangi yang sering nampak di perairan teluk Rajegwesi dan sekitarnya bermula dari air terjun Teluk Hijau. Sayangnya tidak satu pun warga yang saat itu mengabadikan fenomena hulu pelangi yang selalu membuat penasaran bagi yang melihat pelangi di langit.

Dari penglihatan mata orang yang memiliki kemampuan spiritual, di air terjun tersebut kerap terlihat sosok perempuan cantik yang sedang mandi di saat pelangi muncul. Perempuan dengan pakaian khasnya itu memiliki rambut hitam yang panjang dan terurai terbawa aliran air yang jatuh dari hulu air terjun.


Untuk yang suka kemping, di lokasi ini juga cukup bagus untuk mendirikan tenda. Yang perlu diperhatikan jika kemping di Teluk Hijau adalah kondisi pasang surut air laut. JIka kondisi air pasang, maka ombak bisa menjamah seluruh permukaan pantai. Karena itu tenda sebaiknya didirikan di daerah semak/perdu agar aman dari jangkauan ombak ketika air laut pasang. Jadi jangan membangun tenda di tepi pantai.

Informasi terbaru menyebutkan, pada dasarnya status Teluk Hijau adalah kawasan wisata terbatas sehingga pengunjung dilarang mendirikan tenda
untuk bermalam di tempat tersebut. Selain itu ada pertimbangan faktor keamanan, mengingat kawasan tersebut adalah habitat hewan liar seperti rusa dan macan tutul. Namun bagi pecinta alam yang berminat untuk camping di sekitar Teluk Hijau, sebaiknya melapor dan meminta ijin pada petugas Taman Nasional Meru Betiri. 

Satu hal lagi, di kawasan ini tumbuh bunga yang termasuk langka, bunga Raflesia. Bunga Raflesia ini menjadi perhatian tersendiri bagi dinas kehutanan di daerah tersebut. Karena selain menjadi objek pariwisata, bunga ini pun dilindungi.
Bagi penggemar memancing, tentu tidak akan melewatkan aktifitas yang satu ini di pantai Teluk Hijau.

RUTE DAN JALUR MENUJU TELUK HIJAU 

Untuk menuju ke Teluk Hijau Anda terlebih dahulu harus menuju Rajegwesi. Anda bisa menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil berjenis trooper/jeep atau menggunakan sepeda motor.Transportasi umum langsung menuju Rajegwesi belum ada.

Teluk Hijau berlokasi di Kecamatan Pesanggaran tepatnya di Desa Sarongan. Berjarak sekitar 90 km arah selatan dari kota Banyuwangi. Sedangkan dari Jember jaraknya sekitar 105 km. Untuk menuju pantai ini dari Banyuwangi maupun Jember kita tinggal mengikuti petunjuk arah menuju pantai Sukamade di Taman Nasional Merubetiri, yang searah dengan rute menuju Teluk Hijau. 

JEMBER -> GENTENG -> JAJAG -> PEREMPATAN PASAR BANGOREJO -> PASAR PEDOTAN -> KESILIR -> PASAR PESANGGARAN -> PTPN -> DESA KANDANGAN -> SARONGAN -> RAJEGWESI -> TELUK HIJAU -> SUKAMADE.


Jika Anda menuju Teluk Hijau menggunakan kendaraan umum, dari kota Banyuwangi perjalanan bisa ditempuh dengan naik bus kecil rute Banyuwangi-Pesanggaran yang terdapat di terminal Brawijaya, terminal kota yang terletak di jalan Brawijaya. Dengan naik bus ini Anda bisa turun di Terminal Jajag atau langsung turun di Pesanggaran. Di 2 tempat ini terdapat angkutan desa yang bisa langsung mengantar Anda ke Teluk Hijau.

Sedangkan jika Anda berangkat dari kota Jember, Anda bisa naik bus jurusan Banyuwangi dan turun di Jajag. Dari Jajag Anda bisa naik angkutan menuju Teluk Hijau atau Anda meneruskan perjalanan menuju Pesanggaran. Jarak dari Jajag ke Pesanggaran sekitar 20 km.

Dari Pesanggaran Anda melanjutkan ke Sarongan menggunakan angkutan pedesaan dengan ongkos Rp 20 ribu/orang. Kemudian dari Sarongan menuju Rajekwesi Anda bisa menggunakan ojek dengan ongkos Rp 15 ribu.


Patung Penyu
Dari Pesanggaran menuju Teluk Hijau yang berjarak sekitar 26 km, Anda akan melewati persimpangan Patung Penyu di utara Masjid Baitussalam atau dari Masjid Baitussalam menuju ke arah selatan hingga mencapai simpang empat Pasar Pesanggaran, kemudian belok kanan. Kedua jalur ini (Patung Penyu dan simpang empat pasar) akan bertemu di satu titik persimbangan di dekat Kantor Desa Sumbermulyo.


Selanjutnya dari Desa Sumbermulyo menuju desa berikutnya yakni Desa Sumberagung. Di sini terdapat pasar dimana Anda memiliki kesempatan terakhir untuk sekedar mengisi bensin, membeli makanan atau memeriksa kondisi ban mobil atau motor Anda. Karena selanjutnya Anda akan melewati medan gunung berkelok-kelok dan di sana jarang ada perkampungan penduduk, sehingga jika terjadi masalah akan sulit mencari bantuan.

Setelah dari Desa Sumberagung jalan lurus hingga mencapai Gunung Gamping, selanjutnya akan melewati hutan pohon jati milik PT Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyuwangi Selatan yang jalurnya berkelok-kelok. Berikutnya Anda akan memasuki Perkebunan Sungailembu.
Perkebunan karet Sungailembu
Perkebunan Sungailembu adalah perkebunan dengan tanaman karet, kakao dan pohon sengon laut. Disepanjang perjalanan Anda akan menemui jejeran pohon karet yang tampak unik karena arah tumbuhnya miring. Hal ini disebabkan pohon karet ditanam di daerah perbukitan sehingga tumbuhnya ke arah yang mendapat sinar matahari lebih banyak, yaitu ke arah lembah yang menurun.
Pohon karet yang tumbuh miring

Setelah melewati pos perkebunan Sungailembu milik PTPN XII, jalanan yang semula beraspal berubah menjadi off road. Perjalanan menjadi kurang nyaman tapi justru di sinilah serunya petualangan menuju Teluk Hijau.

Selanjutnya Anda akan bertemu dengan jalan persimpangan dengan sebuah tugu bertuliskan Desa Kandangan. Anda dapat memilih dua jalur yang tersedia, yaitu melewati Desa Kandangan atau melewati Perkebunan Sumberjambe. Jika melewati Desa Kandangan, Anda akan melewati pemukiman warga, sedangkan jika melewati jalur Perkebunan Sumberjambe, jaraknya tempuhnya lebih pendek, namun tidak terdapat perkampungan warga. Kedua jalur ini akan bertemu di persimpangan di Pasar Sarongan.

Dari Pasar Sarongan Anda akan  melanjutkan sampai di desa Rajegwesi, yang merupakan pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri. Tiba di pos pemeriksaan Anda diharuskan melaporkan dan membayar tiket masuk.

Memasuki Desa Rajekwesi, Anda akan menemukan jalan pertigaan : yang ke kiri menuju Pantai Rajegwesi dan yang ke kanan menuju Teluk Hijau dan Sukamade.

Dari sini Anda mempunyai 2 pilihan jalur menuju pantai Teluk Hijau : lewat darat atau lewat laut.

Ke Teluk Hijau Lewat Darat/Trekking

Dari Rajegwesi ke Teluk Hijau jaraknya hanya sekitar 2 km, yang bisa ditempuh berjalan kaki selama 1 jam. Letak Teluk Hijau tidak jauh dari pemukiman penduduk yang paling akhir di daerah Rejegwesi. Anda bisa menitipkan kendaraan di rumah penduduk di pantai Rajegwesi lalu meneruskan perjalanan ke start point Teluk Hijau sejauh 1 km dengan berjalan kaki. Atau Anda juga bisa memarkir kendaraan Anda di tempat parkir di dekat Teluk Hijau dengan biaya Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 10 ribu untuk mobil. Lebih dekat dengan Teluk Hijau tetapi untuk menuju tempat parkir tersebut harus melalui jalan tanjakan yang rusak dan berbatu-batu, bukan jalan yang mulus. 
Perjalanan menuju start poin Teluk Hijau
Selama perjalanan menuju Teluk Hijau Anda akan menyusuri jalan tanah berbatu yang menanjak dengan pemandangan alami yang menyegarkan.

Setelah tiba di pos penjagaan sampailah Anda di jalur trekking yang berada di kiri jalan yang merupakan start point menuju pantai Teluk Hijau. 


Start point menuju pantai Teluk Hijau sejauh 1 km.
Jalur trekking ini berupa jalan setapak menyusuri tebing dan lembah sejauh 1 km yang cukup menguras energi karena harus naik dan turun melalui jalan yang di beberapa titik cukup curam. Terlebih jika Anda datang pada musim hujan, jalan setapak ini menjadi sangat licin dan penuh lumpur. Jika tidak hati-hati akan mudah terpeleset. Untuk mengurangi resiko kecelakaan, di bagian tertentu yang curam dan licin, dipasang tali tambang agar pengunjung yang melakukan trekking bisa berpegangan pada tali tersebut.
Begini kondisi jalur trekking
Jika Anda memilih jalur trekking ini, Anda membutuhkan stamina yang prima karena medannya memang cukup berat. Namun kecapekan Anda akan dibayar dengan menemukan banyak pemandangan indah yang tersaji selama perjalanan.    
Pemandangan indah Teluk Hijau dilihat dari atas. 

Ke Teluk Hijau Lewat Laut

Jika tidak mau capek, Anda bisa pilih cara yang lebih mudah dan cepat, yaitu dengan naik perahu selama sekitar 15 menit. Anda bisa menyewa perahu nelayan di pantai Rajegwesi dengan membayar Rp 25 ribu sekali jalan per orang atau Rp 35 ribu jika memilih pulang-pergi.

Meskipun perjalanan dengan perahu hanya 15 menit, tapi membutuhkan nyali yang besar. Karena perahu yang digunakan berukuran kecil dan Anda akan menyusuri pantai selatan yang terkenal ombaknya cukup besar. Dan dipastikan sesampainya di teluk Hijau, pakaian yang Anda kenakan akan basah oleh air laut.

Biasanya pengunjung yang berangkat menuju Teluk Hijau melalui jalur darat/trekking pulangnya menggunakan perahu nelayan ke pantai Rajegwesi. Alasan logisnya, karena tenaga sudah habis. Apalagi medannya memang lebih berat jika Anda memilih kembali ke Rajegwesi menggunakan jalur trekking, karena lebih banyak tanjakan daripada jalan menurun; berbda jika Anda memilih berangkat mlalui jalur darat ini, maka akan banyak ditemui jalan turun.

Karena itu jika Anda ingin merasakan kedua jalur ini, maka pengaturannya adalah ketika berangkat menuju ke Teluk Hijau dari Rajegwesi, gunakan jalur darat/trekking, dan kembalinya baru menggunakan jalur laut pada saat kondisi fisik sudah drop karena kecapekan.

RUTE MENUJU TELUK HIJAU PADA GOOGLE MAPS




update 28/06/14