ANEKA KULINER UNIK DAN KHAS BANYUWANGI

Wisata Banyuwangi - Salah satu daya tarik/ identitas suatu daerah terletak pada kekhasan/kekayaan kulinernya. Seperti halnya daerah lain di Indonesia yang memiliki kuliner yang beraneka macam, Banyuwangi juga memiliki sejumlah kuliner yang khas dan unik. Meskipun tidak semua kuliner tersebut merupakan   namun ada beberapa diantaranya  yang mempunyai akar budaya masyarakat Banyuwangi dan  diakui sebagai kuliner aslikota Banyuwangi.

SEGO TEMPONG
Kuliner Sego Tempong khas Banyuwangi.
Bisa dikatakan inilah kuliner paling popular dan sering diidentikkan sebagai kuliner khas dan asli Banyuwangi. Sego Tempong dapat ditemui di semua wilayah Banyuwangi. Nama Sego Tempong berasal dari rasa pedas sambal yang membuat wajah memerah serasa ditampar (ditempong).

Sego Tempong disajikan dengan beragam sayuran, seperti daun ketela, timun, kacang panjang, terung dan lainnya. Lauk pendampingnya bisa apa saja, namun yang tidak akan ketinggalan adalah tempe dan tahu goreng, ikan asin dan perkedel jagung. Nasi panas beserta lauk pauknya tersebut disajikan dengan Sambal yang khas.

RUJAK SOTO
Rujak Soto merupakan perpaduan antara dua kuliner berbeda, yaitu Rujak dan Soto. Semangkuk Rujak Soto terdiri dari aneka sayuran, lontong, tahu, tempe yang dicampur bumbu kacang, kemudian disiram dengan kuah soto berisikan kulit sapi atau babat. Perpaduan dua kuliner ini menghasilkan cita rasa yang khas dan unik. Pokoknya maknyus.

Satu mangkuk rujak soto berisi lontong, mentimun, sayur-sayuran matang, potongan tahu-tempe, dan irisan daging. Yang istimewa tiap mangkok akan diberi bumbu rujak yang terdiri dari gilingan kacang tanah, gula merah, pisang batu muda, petis, garam, dan cabai rawit.
Semua bahan ini lalu disiram kuah soto bening. Perpaduan bumbu rujak dan kuah soto inilah yang membuat sajian tersebut dinamai rujak soto.

AYAM PEDES

Kuliner Ayam Pedas Rantinem Genteng, Banyuwangi
Ayam Pedes adalah ayam yang dimasak dengan kuah bersantan yang dibumbui rempah-rempah lengkap, ditambah cabai yang dibiarkan utuh. Kuahnya sekilas mirip kari ayam tapi warnanya putih susu, bukan kuning, karena menggunakan santan tanpa kunir. Sesuai namanya, Ayam Pedes dominan rasa pedas yang sangat kuat. Penikmat makanan pedas akan mendapatkan tantangan dari masakan yang super pedas ini.

Ayam Pedes mudah ditemui di warung makan di daerah Genteng dan sekitarnya. Salah satu warung yang identik dengan Ayam Pedes adalah warung Rantinem yang terletak di samping Kantor Pos Genteng.

SEGO CAWUK

Sego Cawuk, Kuliner khas suku Using Banyuwangi
Sego cawuk paling cocok dinikmati sebagai sarapan pagi atau saat makan siang. Sebutan Sewo Cawuk bagi kuliner ini karena asal muasalnya, cara memakannya tidak menggunakan sendok, tapi langsung menggunakan tangan, di-cawuk.

Sego Cawuk terdiri dari nasi dengan campuran kuah yang terbuat dari parutan kelapa muda yang diberi air matang, dilengkapi jagung muda yang dibakar dan dicampur dengan timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih dan sedikit asam sehingga rasanya pedas segar. Bisa juga  ditambahkan dengan kuah pindang khas Banyuwangi yang terbuat dari gula pasir yang dimasak gendam, sehingga menghasilkan kuah yang manis dan bening.

Cara masak gendam ini hanya ada di Banyuwangi, yaitu gula pasir secukupnya dipanaskan di atas wajan sehingga lumer. Setelah berbentuk pasta langsung diberi air secukupnya, dan juga dibumbui seperti lengkuas, daun salam dan garam.

Sebagai lauk pendamping, Sego Cawuk disantap bersama ikan asin, pepesan ikan laut pedas dan telur ayam atau itik rebus. Bagi yang suka pedas bisa menambahkan sambal tomat.

Mak Mantih penjual Nasi Cawuk di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Di Banyuwangi, tidak mudah mendapatkan kuliner ini. Hanya di warung-warung tertentu saja yang menyediakan menu Sego Cawuk. Seperti di samping Gedung Wanita Banyuwangi, itupun hanya ada di pagi hari saja. Di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi juga ada warung milik Mak Mantih (72) yang menyediakan menu Sego Cawuk. Warungnya mulai buka jam 6 pagi sampai jam 10 siang, karena Sego Cawuk ini memang pasnya buat menu sarapan.

PECEL PITIK

Kuliner Pecel Pitik khas suku Using, Banyuwangi.
Diantara jajaran kuliner Banyuwangi, makanan asli suku Using ini sulit ditemukan di tempat makan umum. Karena kuliner ini merupakan bagian dari acara adat suku Using yang hanya disajikan pada waktu-waktu tertentu. Bagi warga desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Pecel Pitik  biasanya disajikan pada upacara adat atau kegiatan budaya lain, seperti kegiatan bersih desa, ritual adat selamatan dan pembukaan hajatan. Dalam kesehariannya, warga tidak rutin memasaknya sebagai konsumsi.

Pada dasarnya pecel pitik itu ayam kampung dicampur dengan parutan kelapa muda. Ayam yang digunakan adalah ayam yang belum kawin atau masih muda supaya tidak alot saat dimakan.
Cara membuat Pecel Pitik khas Banyuwangi.

Cara memasak pecel pitik sangatlah mudah. Ayam kampung setelah dibersihkan dibakar hingga matang. Pecel Pitik diolah dengan parutan kelapa muda yang dicampur dengan kacang yang sudah dihaluskan. Kacang yang sudah disangrai itu dicampur dengan beragam rempah seperti garam, kemiri yang digoreng, parutan kelapa yang tidak terlalu tua dan cabai merah dan cabai kecil secukupnya. Selanjutnya, bumbu tersebut dicampur bersama ayam kampung yang sudah dipotong dalam beberapa bagian. Untuk menyedapkan aroma, ditambahkan perasan jeruk nipis.

Kuliner Pecel Pitik khas Banyuwangi

Di wilayah lain yang juga terdapat suku Using, seperti di daerah Rogojampi dan Gontoran, Pecel Pitik dihidangkan secara basah karena ditambahkan sedikit kuah dari air kelapa muda. Tapi citarasanya sama-sama nikmat dan pasti maknyus.

PECEL RAWON
Pecel Rawon merupakan perpaduan antara pecel dan rawon. Pecel yang terdiri dari sayuran yang diberi bumbu kacang, kemudian disiram dengan kuah rawon daging. Berbeda dengan rujak Soto yang menggunakan lontong, pecel Rawon memakai nasi.

Salah satu tempat yang menyajikan menu Pecel Rawon yang populer adalah Rumah Makan Pecel Ayu di Jalan Laksda Adisucipto 60, Banyuwangi.

Di sini Pecel rawon disajikan lengkap dengan menu lauk-pauknya. Jika Anda pesan seporsi pecel rawon, akan datang sepiring nasi pecel yang berisi sayuran rebus, seperti bayam, taoge, kacang panjang, dan sambal pecel, ditambah kuah rawon. Pelengkapnya, udang goreng, empal sapi, ragi, paru goreng kering, dan remukan rempeyek kacang.

SOP KESRUT

Kuliner Sup Kesrup khas suku Using, Banyuwangi.
Sop Kesrut, nama kuliner yang satu ini mungkin asing bagi warga luar Banyuwangi. Atau tidak sedikit warga Banyuwangi sendiri yang belum mengenalnya. Kuliner kuno suku Osing ini salah satu hidangan yang mulai langka ditemukan.

Di Banyuwangi, hanya ada beberapa warung saja yang sediakan menu ini. Salah satunya warung milik Rodiyah (50), di Dusun Krajan Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Persisnya di pertigaan jalan menuju Ijen Resto.

Isi dari Sop Kesrut terbilang sederhana. Yakni hanya kaldu kental dan belungan ayam kampung didalamnya. Adapula daun bawang didalamnya yang menambah kesan segar pada kuahnya. Meski sederhana, Sop Kesrut merupakan menu yang paling dicari para penikmatnya.

Rasa kaldunya yang gurih, sedikit asam serta pedas menjadi ciri khasnya. Biasanya, Sop Kesrut disantap bersama nasi berlauk daging ayam kampung goreng. Yang menjadi unik, meski sangat pedas, Sop Kesrut wajib dinikmati dengan sambal tempong yang pedasnya minta ampun.

Jika sudah begitu, maka dijamin hidung akan meler karena menahan sengatan pedasnya Sop Kesrut. Konon, dinamakan Sop Kesrut, karena setiap orang yang menyantapnya akan 'kesrut-kesrut' menahan ingus yang akan keluar dari hidungnya

KUPAT LODOH


Kuliner Kupat Lodoh khas Banyuwangi.
Kuliner Kupat Lodoh ini umumnya hanya dijumpai pada saat lebaran Idul Fitri dan lebaran Idul Adha. Namun jika anda berkunjung ke warung Wouese yang berada di Jalan Idjen, persis di depan lapangan di Kecamatan Glagah, Anda bisa menikmati salah satu kuliner suku Using ini. Si pemilik warung sengaja menyajikan Kupat Lodoh agar masyarakat bisa menikmati setiap saat.

Kupat Lodoh adalah kupat (ketupat) yang disajikan dengan ayam yang dimasak dengan lodoh. Rahasia kenikmatan Kupat Lodoh memang terdapat pada rahasia bumbu lodohnya. Lodoh dibuat dari parutan kelapa yang sudah tua, lalu disangrai tanpa minyak. Setelah kering selanjutnya ditumbuk sampai halus dan keluar minyaknya. Bentuknya seperti pasta yang lembut.

Setelah lodoh siap, bumbu halus yang terdiri dari merica, kemiri, ketumbar, pala, jahe, jinten, kayu manis, cabai besar, cabai rawit, laos, kunir, serai, garam dan gula dihaluskan.

Setelah dihaluskan, bumbu ditumis dan ditambahkan air secukupnya, kemudian dimasukkan lodohnya. Setelah mendidih baru ayamnya dimasukkan dan dimasak jadi satu selama kurang lebih setengah jam agar bumbunya masuk. Ayam yang digunakan harus ayam kampung dan digoreng sebentar saja.

Sepotong ayam dengan bumbu lodoh dinikmati dengan ketupat terasa tercampur sempurna di mulut. Bumbu lodoh yang gurih dan sedikit pedas menyatu bersama dengan ayam kampung . Warna kuahnya yang berwarna cokelat pas dicocol dengan ketupat janur. Rasa gurih dari kelapanya dijamin akan membuat Anda ketagihan.

LONTONG CAMPUR

Kuliner Lontong Campur khas Glenmore, Banyuwangi.
Jika Anda berkunjung ke Banyuwangi melalui Jember, maka Anda akan melewati sebuah kecamatan yang memiliki nama yang terdengar asing dan kebarat-baratan, yaitu Glenmore. Daerah yang memiliki banyak perkebunan ini punya kuliner unik yang tidak ditemui di tempat lain. Lontong Campur namanya, tapi lebih dikenal dengan sebutan Campur. Penjualnya tak banyak, hanya beberapa orang di pasar Desa Sepanjang yang lebih dikenal sebagai Pasar Glenmore. Ya, inilah makanan yang membuat kangen warga Glenmore, terutama penduduk Sepanjang, yang hidup di perantauan. Tak heran jika idul fitri tiba, penjual campur jadi tujuan favorit kaum perantauan.

Bahan dasar lontong campur adalah, Bawang merah, bawang putih, Bawang Pre, Kecengal, jahe cengkeh, merica dan Cabe Merah  ditambah potongan daging sapi yang menjadi bahan dasar dari Kuah Campur.  Selanjutnya dalam penyajiannya kuah yang sudah diracik sedemikian rupa ditambahkan Mie Putih (Mie Bakso). Adapun bahan tambahan yang lain adalah kacang tanah digoreng selanjutnya diracik dengan garam, cabe rawit dan petis Madura ( petis  berbahan dasar ikan laut) menjadi bumbu yang  dihaluskan menjadi satu yang dicampur dengan air.

Tingkat kepedasan Lontong Campur disesuaikan dengan selera pembeli. Rasa gurih dan hangatnya membuat makanan ini lebih cocok dikudap di malam hari, terutama dengan rasa pedas saat cuaca sedang hujan. Apalagi jika ditambah kerupuk bawang putih atau kerupuk puli dan cocolan petis.

Di pagi hari, ada sejumlah penjual di Pasar Glenmore yang melayani pembeli sampai siang hari, sekitar pukul 10.00. Sedangkan di malam hari, hanya ada dua penjual di pinggir jalan raya depan pasar dengan letak yang tidak berjauhan. Meski pada awalnya makanan ini dijual untuk warga Madura, lambat laun campur menjadi kuliner khas Glenmore yang tidak ditemukan di kawasan lain. Ingat Glenmore, pasti ingat campur.


BOTOK TAWON
Kuliner Batok Tawon khas Banyuwangi.
Tawon atau lebah biasanya diambil madunya, namun di Banyuwangi ada kuliner yang memanfaatkan rumah atau sarang tawon untuk diolah menjadi masakan yang lezat dan gurih. Orang Banyuwangi menyebutnya Botok Tawon. Meskipun tidak terlalu populer tapi penikmat Botok Tawon cukup banyak. Namun sayangnya, tidak mudah mendapatkan Botok Tawon, karena memang tidak mudah mendapatkan bahan bakunya, yaitu sarang tawon. Hanya di beberapa tempat saja kita bisa mendapatkannya, seperti di pasar tertentu di Banyuwangi.

Salah satu penjual Botok Tawon adalah Bu Misnah, warga Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Di warungnya yang sederhana, sedikitnya setiap hari Bu Misnah memasak 10 kilogram sarang dan anak tawon yang dibeli dari pedagang yang mengantarnya langsung ke tempatnya.

Cara mengolahnya cukup praktis. Pertama-tama rumah tawon tadi dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil. Potongan sarang dan anak lebah lalu dimasukan pincukan daun pisang, dengan ditambahkan bumbu berupa cabe, gula merah, asam, tomat, dan bawang merah. Selanjutnya dikukus dalam dandang. Setelah daunnya layu berarti Botok Tawon sudah matang dan siap disajikan.

Batok Tawon Banyuwangi.

Untuk menjaga cita rasa, Bu Misnah tetap menggunakan kayu untuk memasak botok tawonnya. Ia mengaku mendapatkan resep dari ayahnya yang sudah berjualan sejak tahun 1981.

Jika ada yang memesan, biasanya Bu Misnah akan meletakkan botok tawon di piring yang berbeda. "Pelanggan biasanya pesan nasi pecel dan botok tawon ini sebagai lauknya," jelasnya.

 Botok tawon buatan Bu Misnah ini memiliki paduan rasa unik, 5 rasa sekaligus, Yakni gurih, manis, pedas, asam, dan asin. Seporsi botok tawon harganya bervariasi, antara Rp 5.000 hingga Rp 19.000 tergantung lauk pauk yang dipilih.


Botok tawon diyakini bisa meningkatkan gairah stamina khususnya untuk kaum pria.  Namun bagi yang tidak tahan, makan Botok Tawon bisa mengalami alergi gatal-gatal di sekujur tubuh. Jadi yang punya bibit alergi sebaiknya memang berhati-hati memakan Botok Tawon.

SAYUR DAN SAMBEL LUCU 

Kuliner Sayur Lucu khas suku Using Banyuwangi.
Menyebut namanya Anda mungkin akan tertawa, karenanya kuliner khas suku Using Banyuwangi ini namanya memang Sayur dan Sambel Lucu. Namun kalau Anda sempat mencicipinya, dijamin tidak akan membuat Anda tertawa, karena menu kuno asal Banyuwangi ini memiliki cita rasa yang khas seperti namanya. Dan kuliner ini hanya terdapat di desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Sekilas tampilan Sayur lucu mirip sup tapi warna kuahnya lebih bening dan sayuran yang dimasak bukan sayuran sup seperti wortel dan buncis,  tapi mirip laos berdaun lebar. Itulah tanaman lucu yang menjadi bahan sayur lucu. 

Lucu sendiri adalah tanaman yang secara fisik mirip dengan tanaman laos yang tumbuh secara berkelompok dan tingginya bisa mencapai 1 meter, berdaun lebar. Bagian batang atau bunga tanaman lucu ini oleh masyarakat suku Using diambil untuk diolah menjadi sayur atau sambal.  Bagian batang yang bentuknya sekilas mirip sereh itu tersebut diiris kecil-kecil.

Saat dicicipi, kuah sayur lucu ini rasanya segar dan ada asam manisnya seperti sayur asam. Bau sayur lucu agak langu dan rasanya mirip dengan sirih dan sedikit ada rasa mint, memberikan cita rasa yang khas.  Biasanya sayur lucu diolah dengan potongan daging dan tulangan ayam kampung yang diberi kuah dengan bumbu bumbu sederhana. Lauk pendampingnya adalah ayam kampung goreng dan ikan asin.

Sayur lucu ini akan lebih lengkap bila dihidangkan dengan sambal lucu juga.  Sambal lucu berbahan irisan-irisan batang lucu dicampur dengan irisan kacang panjang serta gerusan Lombok, rasanya dijamin mantap dilidah.

Kuliner Sambal Lucu khas suku Using, Banyuwangi

Tanaman lucu juga memiliki khasiat obat. Caranya dengan memanfaatkan umbi batang lucu lalu dibakar, dan selanjutnya dikunyah.  Khasiatnya untuk meredakan sakit batuk.

Sayangnya Sayur dan sambal lucu ini tidak bisa dinikmati setiap saat, karena hanya dijumpai saat ada acara hajatan seperti pernikahan atau ritual menaikkan killing, yaitu baling-baling tradisional sebagai alat pertanian.

Demikianlah sekilas kuliner khas Banyuwangi yang bisa Anda nikmati ketika berkunjung ke kota yang terkenal dengan sebutan kota Gandrung ini. Belum lengkap rasanya jika datang ke Banyuwangi tanpa mencicipi kulinernya. Setidaknya Anda perlu mencoba beberapa menu diantaranya sesuai dengan selera Anda.

WISATA SPIRITUAL CANDI AGUNG GUMUK KANCIL

Candi Agung Gumuk Kancil, Glenmore, Banyuwangi.
Candi Agung Gumuk Kancil - Candi Agung Gumuk Kancil terletak di di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Bannyuwangi. Candi bermotif Prambanan itu digarap selama 132 hari dengan dana Rp 150 juta. Diresmikan pada 11 Agustus 2002.


Lokasi candi yang berada tepat di Petilasan Maha Rsi Markandeya ini mudah dijangkau, untuk mencapainya bisa menggunakan kendaraan roda empat. Jaraknya sekitar 80 kilometer dari kota Banyuwangi ke arah barat.

Lokasi candi yang berada di pinggir hutan milik Kesatuan Pemangku hutan (KPH) Perhutani Banyuwangi Barat itu sebenarnya dibuka untuk umum. Selain lokasinya bagus, tempat itu oleh umat hindu disucikan karena dipercaya sebagai petilasan Maha Rsi Markandeya, seorang tokoh penyebar agama Hindu pertama di jawa. Di lokasi itu ada beberapa tempat yang dikeramatkan. Selain candi Agung gumuk kancil juga ada Pura Puncak Raung dan Beji.

                                                        Candi Agung Gumuk Kancil
Candi Agung Gumuk Kancil, glenmore, Banyuwangi.


Pengunjung Candi Agung Gumuk Kancil tidak hanya sebatas umat Hindu yang ingin bersembahyang, namun ada juga kalangan penganut kejawen yang datang untuk meminta nasihat spiritual kepada pemangku kompleks candi sambil berdiskusi dan bermeditasi. Ada juga yang melakukan kaulan. Jika kaulnya dikabulkan, biasanya mereka datang lagi untuk menggelar ritual.

Candi Agung Gumuk Kancil berstatus cagar budaya. Tempat ini masuk salah satu tujuan wisata spiritual yang ditetapkan Pemkab Banyuwangi. Namun, biaya perawatan candi, masih mengandalkan sumbangan dari pengunjung.

Sejak dulu Gumuk Kancil dikenal mistis. Sebelum ada pura, pengikut kejawen sering bersembahyang di tempat ini. Para pemburu binatang pun sebelum berburu berdoa di sini. Candi Agung Gumuk Kancil juga menjadi tempat pengikut kejawen untuk meditasi. Mereka juga banyak datang dari luar Kabupaten Banyuwangi. Sehari-harinya, candi ini dipelihara 11 KK umat Hindu yang bertempat tinggal di sekitar candi.

ASAL USUL CANDI AGUNG GUMUK KANCIL
Keberadaan Candi Agung Gumuk Kancil tidak lepas dari sosok Maha Rsi Markandeya, tokoh spiritual abad ke-7 masehi. Sebelum hijrah ke Bali, Rsi Markandeya hidup dan memiliki pasraman di lereng Gunung Raung, Banyuwangi.

Zaman dulu di sepanjang lereng Raung dipercaya menjadi wilayah pasraman yang ditempati masyarakat Jawa Aga (sebutan untuk masyarakat yang tinggal di lereng selatang gunung Raung). Pasramannya dikenal dengan sebutan Diwang Ukir Damalung membentang dari Banyuwangi hingga Besuki, Situbondo. Komunitas Hindu di lereng Raung tersebar di dua dusun, Sugihwaras dan Wono Asih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Dua dusun terpencil ini berlokasi di lereng selatan Raung.
 
Dikisahkan, Rsi Markandeya mengajak sekitar 800 pengikut menyeberang ke Bali. Sampai di pegunungan Toh Langkir, Besakih, Karangasem, sebagian besar pengikutnya meninggal akibat terserang penyakit. Setelah bermeditasi, Rsi Markandeya bersama sebagian pengikutnya kembali lagi ke lereng Raung. Keanehan muncul, pengikutnya mendadak sembuh setelah mandi di lereng Raung. Karena itu tempat tersebut kemudian disebut dengan nama Sugihwaras (sugih = kaya, waras = sehat). Mayoritas penduduk Sugihwaras sekarang pemeluk Hindu.

Kemudian, Rsi Markandeya kembali ke Bali disertai sekitar 400 pengikut, mengangkut bale agung dari Raung. Sang Rsi juga membawa panca datu, lima jenis logam yang menjadi cikal bakal upacara di Bali. Di Bali bekas perjalanan Rsi Markandeya bisa ditemukan di Pura Raung, Tegalalang, Gianyar.

Kepastian bekas kehidupan Resi Markandeya di lereng Raung diketahui warga sekitar tahun 1966. Saat itu Agama Hindu sedang berkembang setelah terjadi pergolakan politik peristiwa G 30 S/PKI. Pengikut ajaran kejawen memilih Hindu sebagai patokan sembahyang. Setelah itu, warga yang hidup di pinggir hutan Raung, tepatnya di Gumuk Kancil menemukan sebuah genta terbuat dari kuningan.

Sejak itu, sejumlah peralatan sembahyang lainnya sering ditemukan, seperti arca Siwa. Kebanyakan barang itu terbuat dari bahan kuningan. Warga juga banyak menemukan perabot rumah tangga seperti cangkir, uang kepeng, tempat tirta, kendi. Hampir seluruh benda itu ditemukan dalam timbunan tanah.

Warga pun menemukan bekas bangunan candi di tengah hutan, terbuat dari batu padas berukir indah. Sebuah arca Siwa lingam juga ditemukan di tempat ini. Lokasinya di tengah hutan Gumuk Payung, Kecamatan Sempu, sekitar lima kilometer arah timur lereng Raung.

Bagi umat Hindu Sugihwaras, Rsi Markandeya menjadi panutannya. Untuk mengenang ajarannya, umat setempat membangun sebuah candi di Gumuk Kancil. Bentuknya menyerupai batu di atas bukit. Letaknya menghadap ke puncak gunung. Umat Hindu meyakini inilah bekas tempat pertapaanya Rsi Markandeya.

Candi di Gumuk Kancil itu terbuat dari batu andesit yang konon didatangkan dari puncak Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Agung di Bali, dibangun tahun 2001. Arsiteknya tokoh spiritual kejawen yang juga juru kunci Candi Prambanan, Yogyakarta, Dulhamid Jaya Prana. Berdirinya candi bertepatan dengan purnama kanem penanggalan Jawa.

Candi yang berdiri di lahan seluas 25 are itu dilengkapi dengan arca Maha Rsi Markandeya, Ciwa dan Budha. Semuanya berbahan baku batu merapi. Selain itu juga ada bale pawedan, tempat sesajen dan senderan.

Batu yang digunakan di Candi Agung Gumuk Kancil diusung dari Gunung Agung Bali dan Muntilan, Jawa Tengah. Jenis batu dari Gunung Agung adalah andesit. Batu tersebut sengaja didatangkan dari Bali dan Jateng, dengan maksud menyatukan kembali tali perkawinan putri Gunung Agung dengan putra Jawa Tengah. Selain itu, dengan perpaduan ini ada maksud ingin mengembalikan sejarah perjalanan ritual Maha Rsi Markandeya yang dimulai dari Jawa menuju Bali. Candi Agung Gumuk Kancil sengaja bermotif Prambanan karena Prambanan dikenal sebagai candi terbesar umat Hindu. Karena itu candi ini menjadi simbol persatuan Jawa-Bali.

Di candi setinggi 13 meter itu terdapat tiga arca utama, yakni arca Siwa Mahadewa di sisi timur, arca Rsi Markandeya dan Tri Murti di sisi barat. Di depan terdapat pintu utama candi untuk pemujaan.

MENJADI TUJUAN WISATA SPIRITUAL

Selain Candi Agung Gumuk Kancil, banyak tempat lagi di sekitar Dusun Sugihwaras yang bisa dijadikan objek perjalanan spiritual. Seluruh lokasi ini diyakini bekas perkampungan kaum Jawa Aga pada masa Rsi Markandeya. Selain Candi Agung Gumuk Kancil sedikitnya ada tiga lokasi, yakni Partirtan Sumber Urip, Watu Gantung dan situs Candi Gumuk Payung. Empat lokasi ini letaknya terpisah, namun bisa ditempuh dalam sekali perjalanan.

Diantara ketiganya, yang dirasakan paling mistis adalah Patirtan Sumber Urip. Letaknya sekitar satu kilometer arah utara Gumuk Kancil. Mata air alami ini ditemukan tahun 1990-an. Sebelumnya mata air ini tertimbun hutan lindung. Sumber Urip merupakan mata air alami yang keluar dari batu.

Sejak tahun 2007, umat Hindu setempat membangun kawasan ini secara swadaya. Tepat di atas mata air utama didirikan sebuah arca Dewi Gangga yang membawa kendi. Dari sumber utama air dialirkan menggunakan 8 kepala naga. Aliran air tersebut kemudian diarahkan ke persawahan warga.

Tempat ini biasanya digunakan sebagai mendak tirta, mengambil air suci, untuk persembahyangan. Hampir tiap hari ada pengunjung datang ke mari. Rata-rata mereka peziarah spiritual. Beberapa di antaranya mengambil airnya untuk dibawa pulang. Kini, umat Hindu setempat mulai memperluas kawasan itu sebagai lokasi pemujaan. Perhutani juga mengizinkannya sebagai kawasan penyangga hutan lindung. Luasnya sekitar 100 m2. Sejak kawasan ini ditetapkan sebagai cagar budaya, masyarakat dilarang menebang pohon dan mengotori lokasi tersebut.

Watu Gantung, glenmore, Banyuwangi.

Dari lokasi mata air Sumber Urip, sekitar 1 km ke arah utara terdapat Watu Gantung. Untuk mencapainya harus berjalan kaki. Watu Gantung adalah batu yang menggantung. Tempat ini juga diyakini masih berkaitan dengan perjalanan Rsi Markandeya.

Lokasi lainnya Pura Puncak Raung dan Pura Giri Mulyo. Dua tempat suci ini berlokasi di bawah Candi Agung Gumuk Kancil. 
Sedangkan letak situs Candi Gumuk Payung agak jauh dari lokasi candi di Gumuk Kancil. Untuk mencapainya pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga ke pintu gerbang situs.

MATA AIR SUMBER BEJI



Tak jauh lokasi Pura Candi Agung Gumuk Kancil, di area tanah milik Perhutani, yang hanya berjarak sekitar 250 meter, terdapat sebuah mata air Sumber Beji yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit. Bagi sebagian warga, mata air Sumber Beji yang berada di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi ini menjadi alternatif penyembuhan, terutama untuk pengobatan penyakit rematik.
Jalan menuju mata air Sumber Beji, Candi Agung Gumuk Kancil
Jalan menuju  Mata Air Sumber Beji

Untuk mencapai mata air yang berada di salah satu kaki Gunung Raung tersebut, para pengunjung bisa mencapainya dengan berjalan kaki, sedangkan kendaran bermotor tidak bisa melewatinya.


Adalah Suparman (62) Pemangku Pura Candi Agung Gumuk Kancil yang sering mengantar pengunjung ke lokasi dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak.
Menurut Suparman, Mata Air Sumber Beji ada empat sumber, yang tempatnya pun tak jauh lokasi yang lain. Tempatnya juga saling berhimpitan atau berjajar.

"Air itu sering dimanfaatkan oleh para pengunjung sebagai Air Tirta dan juga sekedar buat mandi ataupun membasuh muka," katanya.


mata air Sumber Beji, Glenmore

Mata air Sumber Beji sudah memiliki nama sendiri – sendiri yaitu, pertama Dewi Gangga, Dwi Parwati, Dewi Sri, dan yang terakir adalah Dwi Saraswati. Selain digunakan sebagai tempat sembahyang umat hindu, tempat ini juga sering digunakan untuk mandi oleh warga.

Sumber tersebut kini telah dibangun kolam yang berbentuk setengah lingkaran. di bagian luarnya terdapat delapan pancuran mata air. Persis berada di tengah bagian atas pancuran terdapat patung Dewi Saraswati, adalah seorang Dewi yang dikenal sebagai Dewi Air.

Sumber beji, Glenmore.





Menurut Suparlan, juru kunci Mata Air Sumber Beji, sejarah sendang tersebut masih erat kaitannya dengan seorang tokoh besar penyebar agama Hindu di indonesia, yakni Maha Rsi Markandeya, yang tidak lain merupakan penyebar agama Hindu di Indonesia.

Rute Menuju Candi Gumuk Kancil :
  • Dari Kecamatan Genteng ke utara sejauh 7 km menuju kecamatan Sempu.
  • Dari Kecamatan Sempu menuju desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore sejauh 3 km melewati stasiun Kalisetail dan stasiun Sumberwadung.
  • dari desa Sumbergondo menuju dusun wonoasih sejauh 2 km mengikuti petunjuk jalan menuju lokasi.

YUK MENENGOK MUSEUM BLAMBANGAN

Museum Blambangan Banyuwangi.
Museum Blambangan - Selain Museum Sukowidi, di Banyuwangi terdapat sebuah museum lain yang bernama Museum Blambangan. Museum ini terletak di Jalan A. Yani No. 78, Banyuwangi, berada satu kompleks dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Museum ini termasuk dalam museum umum, karena benda-benda koleksi yang berada didalamnya tidak hanya satu jenis saja.

Museum ini didirikan pada tanggal 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh gubernur tingkat I Jawa Timur. Museum ini diberi nama Blambangan karena di masa lalu Blambangan adalah sebuah kerajaan yang cukup dikenal pada masa kerajaan Majapahit.

Awalnya, Museum Blambangan merupakan bangunan peninggalan Belanda yang sempat berfungsi sebagai kantor pembantu bupati atau kewedanaan. Sejak tahun 2003, bangunan kuno tersebut difungsikan sebagai museum. Setelah otonomi daerah pengelolaan museum dialihkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan sejak tanggal 2 Januari 2004 Museum Blambangan dipindahkan lokasinya di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Saat ini kondisi Museum Blambangan sangat memprihatinkan karena luas bangunan hanya 459 meter persegi dan kurang terawat. Hal ini tentu disayangkan mengingat pentingnya fungsi sebuah museum yang menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu, sangat penting sebagai media pembelajaran bagi generasi selanjutnya.

Museum Blambangan di Banyuwangi.

Hingga saat ini koleksi Museum Blambangan mencapai lebih dari 500 koleksi benda bersejarah dan setiap bulannya rata-rata hanya dikunjungi belasan orang saja.

Museum tersebut memiliki koleksi mulai era prasejarah, seperti era Megalitikum, masa klasik Hindu-Budha, masa Islam, kolonial, era kemerdekaan, dan pasca-kemerdekaan.

Museum ini diberi nama blambangan karena konon dahulu bekas kerajaan blambangan yang cukup dikenal pada masa kerajaan Majapahit.

Beberapa Koleksi yang dimiliki  :

  • Guci Besar (berkuping)
  • Arca Wisnu
  • Mesin Ketik
  • Telepon Kuno
  • Keris, Tombak & Senjata
  • Uang Gobok
  • Rumah Suku Using
  • Batik Banywangi
  • Etnografi
  • Arkeologi
  • Historika
  • Numistika
  • Fiologika
  • Keramologika
  • Tehnologika
  • Seni Rupa

Fasilitas Publik :
Toilet
Signage (peununjuk arah)
Parkir

Fasilitas Museum :
Ruang Administrasi
Ruang Penyimpanan Koleksi

Waktu Buka :
Hari Senin – Kamis : Pukul 08.00 s.d 15.00
Hari Jum’at : Pukul 08.00 s.d 10.30
Koleksi Museum Blambangan


Museum Blambangan




Koleksi museum Blambangan di Banyuwangi.

Pemkab Banyuwangi sendiri sejak 2013 lalu sudah merencanakan untuk melakukan revitalisasi museum Blambangan dengan menyediakan anggaran Rp 1,4 miliar. 

"Kami anggarkan di tahun 2014. Rp 1,4 miliar itu hanya untuk bangunannya saja. Belum pengadan barang dan penambahan koleksi museum. Revitalisasi ini penting, karena saya menilai museum yang saat ini ada yang masih belum optimal fungsinya karena lokasinya tidak strategis," jelas Bupati Azwar Anas kala itu.

Menurut rencana museum tersebut akan ditempatkan di gedung bekas Pengadilan Negeri Banyuwangi yang berada di barat stadion Diponegoro. Bangunan tersebut juga merupakan bekas rumah warga Belanda sehingga tepat untuk dijadikan museum. Sedangkan rumah dinas yang ada disampingnya akan diubah menjadi rumah makan atau kafe yang bergaya kolonial. Karena letaknya juga berdekatan dengan gedung perpustakaan Banyuwangi, maka kawasan tersebut akan didesain seperti Taman Ismail Marzuki di Jakarta.

Gedung bekas Pengadilan Negeri Banyuwangi seluas 4.400 meter yang akan digunakan sebagai museum tersebut merupakan aset Mahkamah Agung yang dihibahkan ke Pemkab Banyuwangi. Sebagai gantinya Pemkab Banyuwangi juga menghibahkan tanah di belakang Pengadilan seluas 2.200 meter persegi untuk tambahan bangunan karena Pengadilan Negeri Banyuwangi akan diperbesar menjadi kelas 1 A.

Untuk mewujudkan pembangunan museum baru tersebut, pihak Pemkab Banyuwangi menunjuk arsitek Adi Purnomo untuk mendesain ulang gedung itu supaya bernuansa kolonial abad ke-18. Nantinya pengelolaan museum akan berdiri sendiri, karena selama ini museum Blambangan lokasi dan pengelolaannya masih menjadi satu dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

Pengembangan museum itu ditujukan untuk melestarikan warisan budaya bangsa terhadap berbagai jenis peninggalan yang menjadi milik masyarakat Kabupaten Banyuwangi. Sehingga diharapkan generasi muda Banyuwangi dapat belajar dan mengenal sejarah masa lalu daerahnya melalui benda-benda bersejarah yang tersimpan di Museum Blambangan.

MENGENAL RITUAL TARI SEBLANG YANG MISTIS

Ritual tari Seblang, Banyuwangi.
Wisata Banyuwangi - Banyuwangi dikenal kaya akan adat tradisi budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah tradisi unik yang digelar warga sebagai keperluan bersih desa dan tolak bala agar desa tetap aman dan tentram yakni, Seblang.

Seblang pada dasarnya adalah tarian khas suku Osing, Banyuwangi. Tari Seblang merupakan tradisi yang sudah cukup tua sehingga sangat sulit diacak asal usul dimulainya. Namun menurut catatan, penari Seblang pertama yang diketahui bernama Semi yang juga merupakan pelopor tari Gandrung pertama (meninggal tahun 1973). Ada kemiripan antara Tari Seblang dengan ritual tari Sintren di Cirebon dan ritual Sanghyang di pulau Bali.

Masyarakat Osing sebagai suku asli Kabupaten Banyuwangi mempercayai Seblang merupakan singkatan dari "Sebele Ilang" atau "sialnya hilang". Tradisi Seblang ini dilakukan di dua desa. Selain di Desa Bakungan, tarian Seblang juga digelar di Desa Oleh Sari yang juga berada di wilayah Kecamatan Glagah.

Para penari Seblang dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya.

Ada perbedaan yang signifikan antara tarian seblang yang ada di Desa Olehsari dengan tari seblang yang ada di Desa Bakungan. Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan yang menarikannya.

Tari Seblang di Desa Oleh Sari dibawakan oleh wanita muda yang belum akil baliq dan dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di Desa Bakungan, ritual Tari Seblang digelar satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha dan dibawakan oleh penari wanita yang usianya 50 tahun ke atas yang telah mati haid (menopause) dan dilakukan semalam suntuk di Balai Desa Bakungan.

Alat musik yang mengiringi tarian Seblang di desa Bakungan hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah sarong. Sedangkan di desa Olehsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Tidak hanya pada sang penari dan waktu pelaksanaan ritual, dari segi busana pun, tari seblang di desa Olehsari dan desa Bakungan memiliki perbedaan yang terletak pada Omprok atau mahkota sang penari.
Omprok Seblang Bakungan (kiri) dan Seblang Olehsari (kanan)
Omprok yang dipakai oleh penari Seblang di desa Olehsari biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, di bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok. Sedangkan omprok atau mahkota yang digunakan oleh penari seblang di desa Bakungan sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olehsari.

Tari seblang merupakan bentuk budaya tradisional ciri khas masyarakat Banyuwangi, warga percaya jika tidak melakukan tradisi seblang ini akan mendapatkan musibah. Sekitar tahun 1960an ritual seblang sempat ditinggalkan karena alasan keamanan dan politis akibatnya sejumlah warga kesurupan tanpa alasan yang jelas. Setelah dilakukan ritual upacara, warga yang kesurupan tadi meminta untuk diadakan tradisi seblang. Sejak saat itulah tradisi seblang terus dilestarikan hingga sekarang.


Ritual Seblang Olehsari
Suara angklung paglak terdengar sayup – sayup ditelingga masyarakat sekitar Desa Olehsari kecamatan Glagah. Suara angklung paglak yang berada di pinggir jalan raya Ijen itu merupakan tanda bahwa desa tersebut sedang punya gawe. Kalangan bapak – bapak dan pemuda desa, mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk pentas yang akan digunakan untuk penari seblang.

Mereka sedang melakukan upacara ritual adat Seblang. Seblang merupakan upacara bersih desa untuk menolak balak yang di wujudkan dalam pementasan kesenian sakral ‘seblang’ yang berbau mistis/magis.

Seblang Olehsari ditarikan oleh wanita muda selama tujuh hari berturut-turut. Penari menari dalam keadaan kesurupan (tidak sadar). Ia menari mengikuti gending usingan atau lagu–lagu sebanyak 28 yang dinyanyikan oleh beberapa sinden.

Pada penari Seblang di desa Olehsari, omprok(tutup kepala) biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Mencari penari seblang tidaklah mudah. Mereka harus memenuhi syarat yang ditunjuk roh halus dan memiliki pertalian darah dengan mbah Tiyon, leluhur seblang terdahulu.

Sebelum ritual seblang di laksanakan, pada malam hari sebelumnya ,masyarakat desa itu menggelar selamatan yang di ikuti oleh seluruh warga. Pelaksanaan ritual seblang di laksanakan 7 hari setiap sore dan prosesinya sama, kecuali pada hari terakhir ada prosesi seblang idher bumi keliling kampung.

Puncak prosesi digelar di tengah desa. Dimana tokoh adat setempat memasang mahkota khusus yang disebut Omprok. Dengan pakaian khas, wajah gadis penari tersebut tertutup omprog atau penutup kepala/mahkota yang terbuat dari pelepah pisang yang di suwir - suwir, hingga menutupi wajah penari.

Mata sang penari seblang ditutup oleh ibu-ibu yang berada di belakangnya sambil memegang nampan bambu yang didalam bahasa Banyuwangi disebut tempeh. Sang dukun mulai mengasapi sang penari seblang dengan asap dupa sambil mengucapkan mantera.

Setelah sang penari kesurupan atau kejiman menurut bahasa lokal yang ditandai dengan jatuhnya tempeh atau nampan bambu yang dibawa ibu-ibu tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Penari seblang yang sudah kejiman atau kesurupuan tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Dalam keadaan tidak sadar,penari mengikuti arahan pawang sambil menggerakan selendangnya. 

Seblang Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Dalam ritual Seblang ini terdapat prosesi gending ‘kembang Dermo’, seblang menjual bunga. Dalam prosesi ini sang pawing akan mengeluarkan nampan berisi bunga. Bunga itu di tancapkan pada sebatang bambu kecil yang terdiri 3 kuntum bunga. Kemudian bunga akan di asapi dengan dupa dan penonton dapat membeli bunga itu. Hampir semua masyarakat desa dan para penonoton berebut untuk mendapatkan bunga itu dengan memberi uang tebusan atau mahar. Kembang Dermo yang dipercaya sebagai tolak balak untuk mengusir pengaruh-pengaruh jahat ,balak penyakit, keselamatan maupun keberuntungan itu lalu disimpan untuk anak-anak atau di letakkan di suatu tempat tertentu di rumah maupun di sawah.


Masih ada prosesi lain yang disebut ‘Tundikan”, yaitu penari seblang mengundang tamu atau penonton untuk menari bersama di atas meja.


Masih dalam keadaan tak sadarkan diri, sang penari akan diangkat ke panggung oleh pawang. Sambil menari gadis itu akan melempar selendangnya yang digulung kearah penonton, siapa saja yang terkena lemparan selendang diwajibkan naik keatas panggung dan ikut menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh si penari seblang hingga ia mau menari. Biasanya para penonton berharap bisa mendapatkan tundik ini dan menari bersama Seblang, karena dipercaya ia akan mendapat keberuntungan.

Ritual Seblang Bakungan
Seblang bakungan tujuannya sama yaitu merupakan upacara penyucian desa. Upacara ini dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Adha. Tujuan dari upacara ini adalah menolak balak, yakni dengan mengadakan pertunjukan seblang di malam hari, setelah maghrib.
Penari Seblang Bakungan, Banyuwangi

Upacara ritual Tari Seblang Bakungan diawali dengan berziarah ke makam leluhur desa, Buyut Fitri dengan membawa berbagai macam perlengkapan. Mereka juga mengambil air dari sumber mata air di lingkungan Watu Ulo. Nantinya air tersebut dipercikkan di sudut-sudut desa.


Setelah ziarah, seluruh warga mulai menyiapkan syarat untuk ritual Tari Seblang yang terdiri dari ketan sabrang, ketan wingko, tumpeng, kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir, boneka, pecut dan kelapa yang menjadi perlambang kejujuran.
Warga Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, sedang menyiapkan syarat untuk ritual tari Seblang.
Setelah magrib, ritual diawali dengan berkeliling desa dengan membawa oncor/obor yang diikuti oleh penduduk desa atau dikenal dengan ider bumi. Uniknya saat prosesi ini, semuan listrik di Desa Bakungan dipadamkan dan penerangan hanya didapatkan dari obor yang dibawa warga. Di setiap pojok desa, mereka akan berhenti sambil melafalkan doa-doa keselamatan.

Setiap warga membuat tumpeng dan Pecel Pitik. Seusai ider bumi, tumpeng diletakkan di tempat arena pertunjukan seblang. Lalu dilakukan doa oleh kiai. Selanjutnya setelah terdengar bunyi kentongan, maka serentak masyarakat akan makan tumpeng bersama dengan keluarga dan para pengunjung yang datang ke Desa Bakungan.

Penari Seblang Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi
Ritual tarian Seblang di Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Seblang bakungan ditarikan oleh seorang wanita tua di depan sanggar Seni Bunga Bakung Kelurahan Bakungan Kecamatan Glagah. Setelah diberi mantra-mantra, ia menari dalam keadaan tidak sadar mata terpejam, dengan iringan lagu-lagu khas suku Osing. Lagu-lagunya atau gending Osing ada 12, diantaranya Seblang, Podo nonton, ugo-ugo, kembang Gading dan lainnya. Lagu-lagu tersebut menceritakan tentang kehidupan, karamahan, lingkungan hidup, dan sebagainya.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam penari Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olehsari. Disamping ada unsur mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Kegiatan berakhir tengah malam setelah acara “Adol Kembang”. Para penonton kemudian berebut berbagai bibit tanaman yang dipajang dipanggung dan mengambil kiling (baling-baling) yang dipasang di sanggar. Barang-barang yang diambil tersebut dipercaya dapat digunakan sebagai alat penolak balak.

TRADISI KEBO-KEBOAN SUKU OSING BANYUWANGI

Ritual Kebo-keboan desa Alasmalang, Banyuwangi.
Wisata Banyuwangi - Masyarakat suku Osing Banyuwangi mempunyai tradisi unik dalam rangkaian selamatan desa sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus sebagai upacara bersih desa agar seluruh warga diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Ritual yang rutin digelar setiap tahun sekali, tepatnya bulan Muharam atau Suro pada penanggalan Jawa, yang jatuh pada hari minggu antara tanggal 1 sampai 10 suro ini, dikenal warga setempat dengan RitualKebo-keboan. Konon tradisi ini sudah berlangsung sejak abad 18. Warga setempat meyakini, jika tidak dilakukan akan muncul musibah di desa mereka.

Kebo-keboan adalah bahasa daerah yang berarti kerbau jadi-jadian. Kerbau dipilih menjadi simbol karena merupakan hewan yang diakui sebagai mitra petani di sawah. Kerbau juga merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat desa yang mayoritas sebagai petani.
Tradisi Kebo-keboan Banyuwangi

Dalam ritual Kebo-keboan, peserta yang bertubuh tambun berdandan layaknya kerbau (kebo) lengkap dengan tanduk buatan dan lonceng di lehernya serta melumuri tubuhnya dengan cairan hitam yang terbuat dari oli dan arang. Mereka juga menarik bajak mengeliling sepanjang jalan desa dengan di iringi dengan musik khas Banyuwangi, sebagai ritual sakral untuk meminta berkah keselamatan dan wujud bersih desa.

Di Banyuwangi, ritual Kebo-keboan telah menjadi tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh penduduk Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi dan Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh.
Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi
Kebo-keboan dalam Karnaval Banyuwangi Ethno Carnival 2013.
Walaupun intinya sama, tapi terdapat beberapa perbedaan antara ritual kebo-keboan di kedua desa tersebut. Menurut budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan, 79, meski sama-sama sebagai ritual kerbau jadi-jadian, apa yang terjadi di Desa Aliyan dan Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh agak sedikit berbeda.

Keboan dan Kebo-Keboan

Yang di Desa Aliyan itu namanya Keboan, bukan Kebo-keboan. Kata Hasnan, nama Kebo-keboan lebih dikenal di Alasmalang. "Masyarakat desa yang menjadi `manusia kerbau` di desa Aliyan tidak ditentukan oleh pemuka adat desa setempat. Melainkan arwah leluhur yang memilih siapa saja yang menjadi Keboan. Sedangkan di desa Alasmalang, pemeran Kebo-keboan dipilih oleh pemuka adat," kata Hasnan Singodimayan.

Meski namanya Keboan, ritual ini tidak menggunakan hewan kerbau sebagai sarana upacara. Kerbau yang digunakan adalah binatang jadi-jadian berupa manusia berdandan mirip kerbau, lalu beraksi layaknya kerbau di sawah.

Pelaku
Hampir semua pemain Keboan di desa Aliyan kesurupan roh leluhur. Semalam sebelum tampil, orang-orang yang menjadi pemeran kerbau bisa kesurupan roh leluhur. "Perangai orang yang kesurupan mirip kerbau. Hampir semua pemain Keboan di desa Aliyan kesurupan roh leluhur. Kalau di desa Alasmalang tidak semua kesurupan roh leluhur," katanya.

Jumlah pemeran Kebo-keboan di Desa Alasmalang sekitar 18 orang. Sementara jumlah Keboan desa Aliyan tidak tentu. "Kadang banyak yang jadi `keboan` tahun ini, tahun berikutnya bisa jadi jumlahnya menyusut," papar Hasnan.

Para pemeran "kebo-keboan" dan Dewi Sri Desa Alasmalang dipilih oleh ketua adat setempat, sedangkan pemeran "keboan" dan Dewi Sri desa Aliyan dipilih oleh leluhur langsung.

Keboan Desa Aliyan
Keboan Desa Aliyan
Menurut sejarahnya, Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal-bakal Desa Aliyan, sekitar abad-18 mendapat wangsit untuk melakukan ritual tolak bala ’keboan’ agar masyarakat desa terhindar dari malapetaka serta hasil panen melimpah.

Buyut Wongso Kenongo memiliki dua putra. Buyut Pekik menjadi leluhur masyarakat Desa Aliyan, sementara Buyut Turi menjadi leluhur Dusun Sukodono, Desa Aliyan.Warga beda keturunan itu hingga sekarang tidak bisa akur dalam segala hal. Oleh karena itu, setelah diberi doa di Balai Desa Aliyan, "keboan" asal Sukodono bergerak ke Kedawung dan Sukodono, dan selanjutnya mampir ke makam Buyut Turi. Sementara "keboan" asal Aliyan bergerak ke Aliyan Krajan, Timurjo, dan Cempokosari, dan kemudian mampir ke makam Buyut Pekik.

Ritual Keboan Desa Aliyan ini diawali dengan mendirikan gapura dari bambu yang dihiasi dengan hasil pertanian masyarakat setempat seperti padi, jagung, tebu, dan beraneka macam buah-buahan serta sayuran. Gapura tersebut didirikan di setiap gang yang ada di desa sebagai simbol kesuburan. Selanjutnya mereka menggelar selamatan di empat penjuru desa yang dipimpin sesepuh desa. Doa dipimpin sesepuh desa. Doa ditujukan kepada yang maha kuasa dan pendiri Desa Ki Buyut Wongso Kenongo, agar seluruh warga dijauhkan dari mara bahaya.
Keboan Desa Aliyan, Banyuwangi.

Usai selamatan, dimulailah arak-arakan kerbau manusia. Mereka akan diarak layaknya kerbau yang sedang membajak sawah oleh para petani serta seorang perempuan cantik sebagai simbol Dewi Sri  yang menaburkan benih padi sepanjang jalan desa. . Mereka terbagi dua kelompok, yaitu kelompok timur di wilayah Dusun Krajan, Cempokosari dan Temurejo. Sedangkan untuk kelompok barat masuk wilayah Dusun Sukodono, Kedawung dan Damrejo.

Manusia yang menjadi "keboan" bergerak ke sana ke mari tanpa kenal lelah. Ada warga yang mengikuti pergerakan "keboan". Bila lelaki dewasa yang menjadi "keboan" maka pengiringnya adalah lelaki dewasa. Sebaliknya, bila yang menjadi "keboan" lelaki remaja, pengiringnya berusia sebaya.

Pengiring tidak bisa memaksa "keboan" untuk bergerak ke mana-mana. Hanya sebatas mengarahkan. Bahkan waktu acara ritual tolak bala kapan dibuka terserah kemauan leluhur.

Namun ditengah perjalanan, para kerbau manusia ini mendadak kesurupan. Mereka ini kerasukan roh leluhur desa. Setiap orang yang "dipilih" leluhur menjadi "keboan" tidak bisa mengelak. Sekali roh nenek moyang merasuki tubuh seorang warga desa, maka segala tindak-tanduk orang tersebut seperti kerbau.

Mereka berlarian kesegala arah untuk mencari kubangan lumpur. Menyeruduk warga yang melihat. Kemudian mereka satu per satu  mencemplungkan diri di dua kubangan lumpur dekat balai desa.  Tak pelak, rambut dan celana pendek mereka menjadi basah.

Mereka terlihat saling melempar air selokan menggunakan timba. Tidak boleh marah bila terkena siraman air. Bila terkena, dipersilakan untuk mengambil air dari selokan, kemudian air itu disiramkan ke arah kerumunan orang.

Begitu juga bila warga ada yang ditarik oleh "keboan" ke dalam kubangan lumpur, juga tidak boleh marah. Semua warga membaur, saling siram air selokan, dan ada yang "dibanting" manusia "keboan" ke dalam kubangan lumpur. Lokasi dan ukuran kubangan lumpur ini ditentukan ’leluhur’.

Warga desa Aliyan menganggap benih padi yang dicuri bila ditanam di sawah, diyakini dapat membawa panen yang melimpah dan dijauhi hama. Benih padi itulah yang diarak keliling desa menggunakan becak hias sebagai bagian dari ritual tolak bala di Desa Aliyan, Banyuwangi. 

Pada saat akhir acara mereka yang tidak sadar dikumpulkan di halaman Balai Desa Aliyan dan berkubang di lumpur yang telah disediakan. Ada sekitar 80 lelaki yang bertingkah seperti kerbau dan sesekali mengendus ke penonton untuk diberi wewangian seperti dupa, kemenyan dan minyak wangi. Beberapa keluarga membawa timba yang berisi air untuk membersihkan wajah mereka yang kesurupan.


Setelah ritual selesai, setiap lelaki yang kerasukan akan digotong pulang oleh keluarganya karena kondisi mereka sudah tidak kuat apa-apa, termasuk jalan pulang ke rumah.

Kebo-Keboan Alas Malang

Upacara kebo-kebon di Dusun Krajan dilaksanakan satu kali dalam satu tahun yang jatuh pada hari Minggu antara tanggal 1 sampai 10 Sura (tanpa melihat hari pasaran). Dipilihnya hari minggu sebagai hari penyelenggaraan dengan pertimbangan bahwa pada hari tersebut masyarakat sedang tidak bekerja (libur), sehingga dapat mengikuti jalannya upacara. Sedangkan, dipilihnya bulan Sura dengan pertimbangan bahwa Sura, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, adalah bulan yang keramat.
Munculnya ritual Kebo-keboan di Alasmalang berawal dari terjadinya musibah pagebluk. Kala itu, seluruh warga diserang penyakit. Hama juga menyerang tanaman. Banyak warga kelaparan dan mati akibat penyakit misterius. Dalam kondisi genting itu, Mbah Karti sebagai sesepuh desa kala itu melakukan meditasi di bukit. Selama meditasi, tokoh yang disegani ini mendapatkan wangsit. Isinya, warga desa melaksanakan ritual selamatan desa dengan menggelar ritual Kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri atau yang dipercainya sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Setelah ritual adat tersebut dilakukan, wabah yang melanda desa pun hilang. Warga yang sakit mendadak sembuh. Hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak itu, ritual Kebo-keboan dilestarikan. Mereka takut terkena musibah jika tidak melaksanakannya.

Satu minggu menjelang waktu upacara kebo-keboan tiba, warga masyarakat yang berada di Dusun Krajan mengadakan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan rumah dan dusunnya. Selanjutnya, satu hari menjelang pelaksanaan upacara, para ibu bersama-sama mempersiapkan sesajen yang terdiri atas: tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang, inkung ayam dan lain sebagainya. Selain itu, dipersiapkan pula berbagai perlengkapan upacara seperti para bungkil, singkal, pacul, pera, pitung tawar, beras, pisang, kelapa dan bibit tanaman padi. Seluruh sesajen tersebut selain untuk acara selamatan, nantinya juga akan ditempatkan di setiap perempatan jalan yang ada di Dusun Krajan.

Pada malam harinya para pemuda menyiapkan berbagai macam hasil tanaman palawija seperti pisang, tebu, ketela pohon, jagung, pala gumantung, pala kependhem, pala kesimpar. Tanaman tersebut kemudian ditanam kembali di sepanjang jalan Dusun Krajan. Selain itu, mereka mempersiapkan pula bendungan yang nantinya akan digunakan untuk mengairi tanaman palawija yang ditanam.
Kebo-keboan Banyuwangi.

Pagi harinya, sekitar pukul 08.00, diadakan upacara di Petaunan yang dihadiri oleh panitia upacara, sesepuh dusun, modin, dan beberapa warga masyarakat Krajan. Pelaksanaan upacara di tempat ini berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan dari pihak panitia upacara, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh modin dan diakhiri dengan kenduri dan makan tumpeng bersama yang berjumlah 12 buah, yang melambangkan perputaran roda kehidupan manusia 12 jam sehari dan 12 jam semalam. Lalu dimulailah ider bumi yang merupakan puncak acara.

Para peserta upacara yang terdiri dari para sesepuh dusun, seorang pawang, perangkat dusun, dua pasang kebo-keboan (setiap kebo-keboan berjumlah dua orang), para pembawa sesajen, pemain musik hadrah, pemain barongan dan warga Dusun Krajan akan melakukan pawai ider bumi mengeliling Dusun Krajan. Di depan mereka ada seorang perempuan cantik sebagai simbol Dewi Sri membawa benih pagi. 

Pawai ider bumi ini dimulai di Petahunan kemudian menuju ke bendungan air yang berada di ujung jalan Dusun Krajan. Sesampainya di bendungan, jagatirta (petugas pengatur air) akan segera membuka bendungan sehingga air mengalir ke sepanjang jalan dusun yang sebelumnya telah ditanami tanaman palawija oleh para pemuda. Sementara, para peserta upacara segera menuju ke areal persawahan milik warga Dusun Krajan.

Setelah tiba di sawah, perempuan yang berperan sebagai Dewi Sri tersebut akan menaburkan benih padi yang akan diperebutkan oleh para petani.

Di persawahan inilah kebo-keboan tersebut memulai memperlihatkan perilakunya yang mirip seperti seekor kerbau yang sedang membajak atau berkubang di sawah. Pada saat kebo-keboan sedang berkubang, sebagian peserta upacara segera turun ke sawah untuk menanam benih padi yang diyakini membawa berkah. 

Setelah benih tertanam, para peserta yang lain segera berebut untuk mengambil benih padi yang baru ditanam tersebut. Meskipun harus berkubang lumpur, ratusan warga, baik laki-laki, perempuan, baik tua maupun muda, rela berebut bibit padi ini karena dipercaya dapat dijadikan sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan serta membawa berkah.

Mereka percaya jika mendapatkan benih padi tersebut lalu dicampurkan pada benih padi lainnya hasil panen akan bagus dan melimpah. Keriuhan pun terjadi antara petani yang berebut benih padi dengan "kebo-keboan" yang mengiringi Dewi Sri. Mereka yang bergulat dan bergumul di lumpur menjadi atraksi yang menarik dan menegangkan bagi warga yang menyaksikan

Kebo-keboan sedang mengejar warga yang mengambil benih yang baru ditanam.
Pada saat para peserta memperebutkan benih tersebut, para kebo-keboan yang sebelumnya telah dimantrai oleh pawang sehingga menjadi trance, akan segera mengejar para pengambil benih yang dianggap sebagai pengganggu. Namun, para kebo-keboan itu tidak sampai mencelakai para pengambil benih karena sang pawang selalu mengawasi setiap geraknya. Setelah dirasa cukup, maka sang pawang akan menyadarkan kebo-keboan dengan cara mengusapkan pitung tawar pada bagian kepalanya. Setelah itu, mereka kembali lagi ke Petahunan.

Sesampainya di Petahunan, peserta upacara kembali ke rumah masing-masing sambil membawa padi yang tadi mereka ambil di sawah untuk dijadikan sebagai penolak bala dan juga sekaligus pembawa berkah. Malam harinya, mereka kembali lagi ke Petahunan untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Sri Mulih yang mengisahkan tentang Dewi Sri. Lakon tersebut dipentaskan dengan harapan agar warga Dusun Krajan mendapatkan hasil panen padi yang melimpah. Dan, dengan dipentaskannya kesenian wayang kulit di Petaunan itu, maka berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara kebo-keboan di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi.